Talia menolak mentah-mentah. Baginya, perjodohan adalah penjara. Kiblat menerima — bukan karena cinta, tetapi karena tanggung jawab. Ia menikahi perempuan yang bahkan tak menginginkannya.
Kiblat menyimpan ketakutan yang menggerogoti dirinya: ia merasa terinfeksi HIV akibat insiden jarum suntik saat menjalankan misi kemanusiaan di Sudan. Karena itu, ia menjaga jarak dari istrinya sendiri. Ia memilih diam, menahan diri, dan memendam rasa takut sendirian.
Di sisi lain, Talia merasa ditolak. Ia yakin suaminya tidak pernah benar-benar mencintainya. Ketika HUSNA (Isel Fricella), ustadzah muda dari masa lalu Kiblat, kembali hadir dan terang-terangan menunjukkan kepeduliannya, Talia mulai merasakan sesuatu yang tak ingin ia akui: cemburu.
Belum selesai di situ, masa lalu Talia juga kembali menghantui. Rahasia dan luka lama bangkit, menguji pondasi rumah tangga yang bahkan belum sempat kokoh.
Di tengah prasangka, ketakutan, dan ego, satu pertanyaan menggantung: Apakah cinta bisa tumbuh dari keterpaksaan?
Ataukah pernikahan mereka hanya akan menjadi luka baru?