nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sha Ine Febriyanti, Sejak Usia 19 Tahun Sudah Jatuh Cinta dengan Karakter Nyai Ontosoroh

Rabu 10 Juli 2019 18:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 10 206 2077189 sha-ine-febriyanti-sejak-usia-19-tahun-sudah-jatuh-cinta-dengan-karakter-nyai-ontosoroh-kyPV1OKghF.jpg Sha Ine Febriyanti pemeran Nyai Ontosoroh di Film Bumi Manusia / Foto : Youtube

Sha Ine Febriyanti yang dalam Film Bumi Manusia berperan sebagai Nyai Ontosoroh merasa bersyukur karena keinginannya terkabul. Di usia 19 tahun, Ine pernah berdoa kalau ada kesempatan suatu ketika ingin memerankan tokoh Nyai Ontosoroh ini.

"Dan ternyata doa saya terjawab,”ujar wanita yang mengawali kariernya di dunia model sejak terpilih sebagai Cover Girl Majalah Mode tahun 1992.

Ine, begitu biasanya dia disapa, menyebutkan Novel Bumi manusia ini seolah kitab sucinya para penggemar sastra. “Begitu juga saya,”ujarnya. Dia sudah membaca novel ini sejak usianya 19 tahun. Ine pun yakin, semua orang pasti jatuh cinta pada novel Bumi Manusia ini.

Baca Juga : Trailer dan Sinopsis Film Bumi Manusia

Film Bumi Manusia mengisahkan dua anak manusia yang meramu cinta di atas pentas pergelutan tanah kolonial awal abad 20. Inilah kisah Minke dan Annelies. Cinta yang hadir di hati Minke untuk Annelies, membuatnya mengalami pergulatan batin tak berkesudahan.

Dia, pemuda pribumi, Jawa totok. Sementara Annelies, gadis Indo Belanda anak seorang Nyai. Bapak Minke yang baru saja diangkat jadi Bupati, tak pernah setuju Minke dekat dengankeluarga Nyai, sebab posisi Nyai di masa itu dianggap sama rendah dengan binatang peliharaan.

Namun Nyai yang satu ini, Nyai Ontosoroh, ibunda Annelies, berbeda.

Baca Juga : Alasan di Balik Barengnya Rilis Film Perburuan dan Bumi Manusia

Minke mengagumi segala pemikiran dan perjuangannya melawan keangkuhan hegemoni bangsa kolonial. BagiMinke, Nyai Ontosoroh adalah cerminan modernisasi yang kala itu sedang memulai geliatnya.

Ketika keangkuhan hukum kolonial mencoba merenggut paksa Annelies dari sisi Minke, Nyai Ontosoroh pula yang meletupkan semangat agar Minke terus maju dan memekikkan satukata, “Lawan!”

Anak Rohani

Film Bumi Manusia diadaptasi dari naskah novel karya Sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya Ananta Toer kerap menyebut buku-buku yang ia tulis adalah anak-anak rohaninya.

Dari sekian banyak anak rohaninya, empat novel yang kerap disebut Tetralogi Buru adalah karya monumentalnya. Empat novel tersebut yakni, yang pertama Bumi Manusia, lalu dilanjutkan Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Keempat novel itu berkaitan tapi juga bisa dibaca sendiri.

Ide cerita novel ini telah ada di benak Pram sejak 1950-an. Sastrawan Eka Kurniawan yang menulis buku tentang Pram mencatat, Tetralogi Buru merupakan upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab: apa itu menjadi Indonesia.

Baca Juga : Selain Ciuman, Iqbaal & Mawar Eva De Jongh Juga Seranjang di Bumi Manusia

Pada masa itu, perkara menjadi Indonesia sedang hangat—jika tak bisa dikatakan panas—ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia (Tempo, 19 Mei 2008).

Minke, karakter utama di novel ini, terinspirasi dari sosok nyata Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama, Medan Prijaji. Tirto model sempurna embrio Indonesia modern, karena perintis pers dan salah satu tokoh awal nasionalisme di permulaan abad 20.

Baca Juga : Mawar De Jongh Deg-degan saat Berciuman dengan Iqbaal Ramadhan

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini