Sha Ine Febriyanti yang dalam Film Bumi Manusia berperan sebagai Nyai Ontosoroh merasa bersyukur karena keinginannya terkabul. Di usia 19 tahun, Ine pernah berdoa kalau ada kesempatan suatu ketika ingin memerankan tokoh Nyai Ontosoroh ini.
"Dan ternyata doa saya terjawab,”ujar wanita yang mengawali kariernya di dunia model sejak terpilih sebagai Cover Girl Majalah Mode tahun 1992.
Ine, begitu biasanya dia disapa, menyebutkan Novel Bumi manusia ini seolah kitab sucinya para penggemar sastra. “Begitu juga saya,”ujarnya. Dia sudah membaca novel ini sejak usianya 19 tahun. Ine pun yakin, semua orang pasti jatuh cinta pada novel Bumi Manusia ini.
Baca Juga : Trailer dan Sinopsis Film Bumi Manusia
Film Bumi Manusia mengisahkan dua anak manusia yang meramu cinta di atas pentas pergelutan tanah kolonial awal abad 20. Inilah kisah Minke dan Annelies. Cinta yang hadir di hati Minke untuk Annelies, membuatnya mengalami pergulatan batin tak berkesudahan.
Dia, pemuda pribumi, Jawa totok. Sementara Annelies, gadis Indo Belanda anak seorang Nyai. Bapak Minke yang baru saja diangkat jadi Bupati, tak pernah setuju Minke dekat dengankeluarga Nyai, sebab posisi Nyai di masa itu dianggap sama rendah dengan binatang peliharaan.
Namun Nyai yang satu ini, Nyai Ontosoroh, ibunda Annelies, berbeda.
Baca Juga : Alasan di Balik Barengnya Rilis Film Perburuan dan Bumi Manusia
Minke mengagumi segala pemikiran dan perjuangannya melawan keangkuhan hegemoni bangsa kolonial. BagiMinke, Nyai Ontosoroh adalah cerminan modernisasi yang kala itu sedang memulai geliatnya.
Ketika keangkuhan hukum kolonial mencoba merenggut paksa Annelies dari sisi Minke, Nyai Ontosoroh pula yang meletupkan semangat agar Minke terus maju dan memekikkan satukata, “Lawan!”