nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pesan Sapardi Djoko Damono, Jangan Pernah Bandingkan Film dengan Novel, Haram!

Ady Prawira Riandi, Jurnalis · Rabu 25 Oktober 2017 20:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 10 25 206 1802378 pesan-sapardi-djoko-damono-jangan-pernah-bandingkan-film-dengan-novel-haram-Z9gDHqRK26.jpg Sapardi Djoko Damono (Foto: Ady/Okezone)

JAKARTA – Para penikmat puisi-puisi atau novel Sapardi Djoko Damono terbilang cukup besar di Indonesia. Tak heran jika kemudian karya-karya Guru Besar Ilmu Susastra FIB UI ini mulai dilirik untuk diadaptasi ke dalam layar lebar.

Salah satu karyanya yang resmi diangkat adalah Hujan Bulan Juni. Berawal dari puisi, Hujan Bulan Juni kemudian diangkat menjadi sebuah novel dan meledak di pasaran. Sekarang karya tersebut akan bisa dinikmati dalam bentuk gambar.

(Baca Juga: Soal Bayar Pajak Rp2,5 M Deddy Corbuzier Dipanggil Ditjen Pajak, Kenapa?)

(Baca Juga: Mantap! Metallica Siap Gelar Konser Bagi Korban Kebakaran California)

Namun, Sapardi tak ingin jika karya filmnya nanti dibanding-bandingkan dengan novelnya yang laris manis di pasaran. Menurutnya, penjualan sebuah film adaptasi dari novel tidak bisa dibandingkan kesuksesannya dengan penjualan bukunya.

“Jadi begini, masalah kita membandingkan film dengan buku, enggak boleh. Film dengan film, buku dengan buku. Itu haram, enggak boleh ya. Jadi kalau kita mau bilang itu film bagus apa enggak jangan tergantung kepada bukunya, bukunya bisa lebih bagus, bisa lebih laris tetapi bukan itu masalahnya, dengan film lain dia bagus apa enggak? Buku saya juga begitu, kalau filmnya jelek apa buku saya jadi jelek? Kan enggak,” tutur Sapardi saat ditemui di Jakarta Selatan.

(Baca Juga: Ribut dengan Nikita Mirzani Ramai di Medsos, Evelyn Tetap Ngaku Tak Ada Masalah)

(Baca Juga: Syuting Iklan Bareng Gong Yoo, Tatjana Saphira: Berasa Ada di K-Drama)

Ia berprinsip bahwa sesungguhnya jika ingin membandingkan elemen yang harus dibandingkan harus sama terlebih dahulu. Buku adalah sebuah karya seni yang mengandalkan kata-kata, sedangkan film bermain dalam elemen gambar. Jadi, film dan buku tidak bisa dibandingkan satu sama lain.

Sapardi sendiri sudah ikhlas dengan apa pun hasil dari film yang diangkat dari novelnya tadi. Ia memang sedari awal sudah membebaskan pihak produksi untuk menafsirkan buku novelnya ke dalam sebuah film.

“Iya kita harus ikhlas (apa pun hasilnya). Ketika saya harus menilai, saya harus menilai filmnya. Tidak usah dan saya tidak berhak untuk menyandingkannya dengan novel saya,” tambahnya.

Sambil sedikir bercerita, Sapardi Djoko Damono hingga saat ini masih kaget dengan begitu banyak orang yang mencintai Hujan Bulan Juni yang ditulisnya. Padahal saat pertama kali diminta mengubahnya menjadi novel, ia sendiri sudah tidak sanggup untuk melanjutkannya.

“Saya ketika mengubah dari puisi menjadi novel aja sudah susah, ngos-ngosan gitu ya. Kemudian gak tahu kenapa kok laris banget ya, sehingga diminta untuk dijadikan film. Ya saya oke, saya gak masalah,” tutupnya.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini