nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

MOVIE FACT: 5 Hal Unik Seputar Film Turah yang Wakili Indonesia di Piala Oscars

Ady Prawira Riandi, Jurnalis · Sabtu 23 September 2017 13:14 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 23 206 1781531 movie-fact-5-hal-unik-seputar-film-turah-yang-wakili-indonesia-di-piala-oscars-J4obhVPelF.jpg Cuplikan film Turah (Foto: Youtube)

JAKARTA - Film Turah akan menjadi perwakilan Indonesia dalam ajang Academy Awards atau Oscars tahun 2018. Turah resmi dikirim Indonesia sebagai perwakilan untuk masuk seleksi dari kategori Best Foreign Language Film atau film bahasa asing terbaik.

Film garapan sutradara Wicaksono Wisnu Legowo tersebut dipilih oleh komite khusus yang dibentuk oleh Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) demi menjawab permintaan penyelenggara Oscar agar Indonesia mengirimkan wakilnya. Setelah melalui diskusi panjang, Turah akhirnya resmi diumumkan sebagai perwakilan Indonesia oleh Christine Hakim, selaku ketua komite tersebut.

(Baca Juga: Tepuk Tangan! Film Turah Wakili Indonesia di Ajang Oscars)

(Baca Juga: Christine Hakim Berharap Ada Film Biografi Tentang Teguh Karya)

Meski akan menjadi perwakilan Indonesia, Turah bukan lah film yang populer di masyarakat Indonesia. Film-film festival seperti Turah memang jarang mendapat penikmat jika ditayangkan di bioskop. Padahal Turah memiliki beberapa fakta unik di dalamnya.

1. Keseluruhan film menggunakan bahasa Tegal

Masyarakat Tegal seharusnya bangga dengan prestasi yang selama ini diciptakan oleh Turah. Pasalnya, Turah menggunakan bahasa Tegal dalam keseluruhan dialog di dalam filmnya. Dengan kata lain, ini adalah film berbahasa Tegal pertama yang akan melaju dan berkompetisi di ajang sekelas Oscar. Keren, bukan?

(Baca Juga: Slamet Rahardjo Tanggapi Rencana Remake Film G30S/PKI)

 

2. Bertahan dua minggu di bioskop

Seperti dikatakan sebelumnya, film-film festival seperti Turah nyatanya kurang diminati oleh masyarakat Indonesia saat ditayangkan di bioskop.

Berbeda dengan kiprahnya di panggung festival dunia, Turah hanya berumur dua minggu di bioskop Indonesia. Hal itu juga yang membuat Wicaksono tak menyangka filmnya dipilih sebagai perwakilan Indonesia di ajang Oscar.

"Enggak nyangka umurnya bisa sepanjang ini, sudah hampir setahun, ternyata masih ada yang memgapresiasi Turah. Dari 2016 akhir, terus masuk festival, terus baru masuk di bioskop bulan kemarin dan hanya bertahan dua minggu lebih di Tegal. Terus turun bioskop, lalu dipercaya untuk mewakili ini," ujar Wicaksono saat dihubungi awak media.

3. Hanya mendapatkan lima ribu penonton

Minimnya apresiasi penonton Indonesia terhadap film festival terlihat sangat jelas dari jumlah penonton yang didapatnya. Ketika film-film komersil berlomba-lomba mencapai jutaan penonton, film sekelas Turah sudah merasa puas meski hanya mendapat lima ribu penonton.

"Totalnya 5.000 sekian. Oh, aku tahu rasanya! Rasanya aku ingin bikin film lagi. Sudah ada planning bikin film lagi," jawab Wicaksono penuh semangat saat ditanya jumlah penonton yang didapat oleh Turah.

4. Awalnya film asal jadi

Tak pernah terpikirkan sama sekali oleh Wicaksono filmnya akan berkompetisi untuk masuk seleksi di ajang sekelas Oscars. Melihat filmnya jadi saja sudah merupakan kepuasan tersendiri bagi Wicaksono.

"Film Turah sudah diakui tingkat nasional. Jadi, dulu bikin Turah dari yang penting jadi, makin ke sini makin banyak apresiasi. Aku jadi kayak, enggak ngerti cara ngadepinnya. Karena awalnya dulu yang penting filmnya jadi," ungkap Wicaksono.

5. Bermodalkan kejujuran

Beberapa juri di dalam komite seleksi menyatakan bahwa film Turah memiliki modal kejujuran dalam bercerita yang menjadi kekuatan utamanya. Kisah kehidupan masyarakat desa Tirang yang mengalami kesulitan air dan listrik dinilai sebagai sebuah kejujuran bahwa pembangunan di Indonesia saat ini masih belum sepenuhnya merata.

"Saya bilang bahwa ini adalah sebuah film bisa jadi tidak hanya mengangkat soal kearifan lokal ya tapi film ini tuh Indonesia dalam medium yang kecil gitu. Pembahasannya, pola bertutur, pola penggarapannya, menarik sekali isu yang diangkat dengan tokoh-tokoh yang digunakan di film itu," kata Reza menyampaikan alasan mengapa Turah dipilih.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini