“Ketika dia berhadapan sama orang, dia akan senyum, dia selalu bilang iya. Tapi ketika di rumah dia kayak, ‘Aduh, seharusnya aku bisa ngelakuin hal yang lain. Kenapa aku enggak bisa nolak?’” tuturnya.
Bagi Mawar, memerankan karakter dengan dua sisi yang berbeda tersebut menjadi pengalaman menarik. Ia harus menggambarkan sosok yang terlihat menyenangkan di hadapan orang lain, tetapi menyimpan pergulatan batin ketika tidak bisa menyampaikan keinginan sebenarnya.
Pengalaman pribadinya sebagai seseorang yang juga mengaku memiliki kecenderungan people pleaser membuat konflik Karina terasa lebih dekat dengannya.
Dalam kesempatan itu, Mawar juga mengungkap perbedaan antara menjadi orang baik dan menjadi people pleaser. Menurutnya, keinginan untuk memperlakukan orang lain dengan baik memang bisa menjadi salah satu alasan seseorang terbiasa mengiyakan permintaan.
Namun, niat baik itu tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus mengorbankan dirinya sendiri.
“Ada orang-orang yang menjadi people pleaser karena dia ingin menjadi orang baik, tapi mungkin salah satu hal penting yang harus diingat, kita enggak bisa selalu mengorbankan diri kita sendiri sih,” jelas Mawar.