Pertama di Indonesia, Ini Kesulitan Menggarap Film Vertikal

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 31 Maret 2021 19:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 31 206 2387419 pertama-di-indonesia-ini-kesulitan-menggarap-film-vertikal-GmUOXFQF0T.jpg Film X&Y (Foto: Studio Antelope)

JAKARTA - Sejak dahulu, kita terbiasa untuk menyaksikan film Indonesia dalam format horizontal alias landscape. Ini karena kita terbiasa menonton film di televisi, layar bioskop, ataupun laptop yang semuanya didesain dalam bentuk landscape.

Akan tetapi, tren masyarakat Indonesia dalam menikmati film pun sudah mengalami pergeseran. Terlebih sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, membuat bioskop tak bisa beroperasi.

Baca Juga:

X&Y, Film Berformat Vertikal Pertama di Indonesia

Gandeng Perguruan Tinggi, LSF Kampanye Budaya Sensor Mandiri

X&Y

Akibatnya, banyak masyarakat yang menikmati film melalui smartphone. Generasi milenial dan zilenial memang tidak bisa lepas dari gadget. Mereka menggunakan smartphone untuk melakukan segala hal, termasuk menonton film.

Hal tersebut pun dinilai sebagai sebuah peluang bagi Studio Antelope dan juga TikTok Indonesia untuk menciptakan film dalam format baru, yakni vertikal. Film vertikal perdana tersebut pun sudah tayang di TikTok dengan judul X&Y.

Mengusung film dengan konsep yang benar-benar berbeda dari sebelumnya, tentunya bukanlah yang mudah. Mulai dari konsep hingga proses produksi, semuanya memiliki tantangan tersendiri.

"Yang paling menantang sih sebenarnya format vertikalnya. Karena dari awal project, secara komposisi semua harus dibuat vertikal. Sehingga logikanya pun berbeda dengan film landscape," ujar Jason Iskandar, sutradara film "X&Y" yang juga pendiri Studio Antelope kepada MNC Portal Indonesia, Rabu (31/3/2021).

Mulai dari opening, adegan, hingga mengatur komposisi frame tentunya sangat berbeda dan memiliki kesulitan. Wajar saja, karena sejak dahulu, kita sudah terbiasa dengan format film landscape.

"Karena memang yang biasanya kita punya sisi kanan kiri yang lebih lebar, dengan posisi potrait, frame bagian atas dan bawahnya yang lebih lebar. Jadi benar-benar harus diatur supaya make sense," terangnya.

Sementara itu, Head of Content and User Operations TikTok Indonesia, Angga Anugrah Putra menilai bahwa film yang dibuat dengan posisi vertikal memiliki kelebihan dibanding posisi landscape.

"Menurut mobile report 2017, film dalam bentuk vertikal itu 4 kali lebih engage. Soalnya kan masyarakat saat ini juga lebih sering mengakses entertainment dari smartphone," ungkapnya.

Selain itu, jika film dibuat dalam frame potrait, maka akan menghasilkan perspektif yang berbeda. Pasalnya, film dengan format potrait itu cocok banget buat penonton karena dapat melihat karakter pemain dengan jelas dan lebih dekat.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini