Sebagai sejarawan, Yerry melihat S. Rukiah Kertapati merupakan perempuan hebat dan representasi modernitas di masa awal Republik Indonesia.
Rukiah menjadi perempuan muda yang mampu menjadi penggerak literasi waktu itu dan menjadi perempuan pertama yang bukunya menang hadiah Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).
Selain itu, Rukiah juga menjadi perempuan kedua yang menulis dan menerbitkan karyanya, setelah istri Husein Djajadiningrat.
Yerry juga mengatakan Rukiah merupakan penggerak sasta anak yang waktu itu masih sangat sedikit.
"Ini penting karena menjadi penulis dan sampai menerbitkan karyanya bukan hal mudah pada masa itu bagi perempuan. Apalagi Rukiah bukan berasal dari keluarga ternama," katanya.
Menurut Yerry generasi sekarang, khususnya penggerak literasi harus mengetahui peran Rukiah pada masa itu agar generasi muda sekarang bisa mendapatkan referensi tentang gerakan perempuan Indonesia pada masa awal berdirinya Indonesia.
(aln)