JAKARTA - Herawati tak menutupi, sempat merasa betah bekerja dengan Erin Wartia. Namun dia memastikan, rasa nyaman itu bukan karena Erin memperlakukan para ART-nya dengan baik.
“Saya sempat bilang ke Ibu yayasan kalau nyaman kerja di sana. Tapi bukan karena majikannya, tapi karena teman sesama ART. Di sana, ada dua ART lainnya,” ungkapnya kepada awak media di Jakarta Selatan, pada 9 Mei 2026.
Herawati mengungkapkan, dua rekan ART tersebut sempat memohon agar dirinya tidak mengundurkan diri meski kerap menerima makian kasar dari Erin Wartia.
“Mereka bilang, ‘Mbak Hera jangan keluar ya. Kuat-kuatin, mbak Hera. Apa mbak enggak kasihan sama saya?’ Mereka juga bilang, ‘Ya sudah, mbak Hera sini saya pijitin. Tetap di sini ya’," ucap Hera menirukan perkataan dua temannya tersebut.
Namun rasa nyaman karena solidaritas rekan kerja itu seketika sirna setelah dugaan kekerasan fisik dialami Herawati, pada 28 April 2026. Saat itu, Erin Wartia menuduh dirinya tidak membuka gorden dan membuat kesalahan sepele dalam pekerjaannya.
Karena kesalahan tersebut, Hera mengklaim, dipukul Erin menggunakan gagang sapu lidi di bagian kepala. Sambil memukul, Erin melontarkan makian kepada Hera dan menudingnya bekerja asal-asalan.