“Dengan film kita bisa mempromosikan suatu daerah, mengangkat kekayaan budaya dan kearifan lokal untuk diperkenalkan lebih luas, baik di dalam negeri maupun mancanegara,” ujar Pupung.
Lebih lanjut, Pupung menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem yang kuat. Ia juga memberikan motivasi kepada para sineas muda agar berani menghadapi tantangan. "Tantangan terbesar itu dari diri kita sendiri. Setiap tantangan adalah cambuk untuk meningkatkan kreativitas," tambahnya.
Workshop ini menghadirkan dua narasumber ahli dari Oris Picture, yaitu Sutradara Orista Primadewa Hadiwiarjo dan Produser Risty Nanda Dhea Putri.
Orista Primadewa, yang film pendeknya “Berdamai Dengan Raqib & Atid” berhasil mendapatkan pendanaan Kemenekraf dan masuk seleksi resmi JAFF, berbagi strategi menembus industri film. Menurutnya, membangun Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) pribadi melalui media sosial adalah kunci di era digital ini.
(kha)