Hari Film Nasional, Dokumenter Rock Metal Indonesia Dihadirkan

Adiyoga Priambodo, Jurnalis · Rabu 31 Maret 2021 02:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 30 206 2386777 hari-film-nasional-dokumenter-rock-metal-indonesia-dihadirkan-7lMcGHajDz.JPG Gelora Magnumentary: Saparua (Foto: Ist)

JAKARTA - Literasi soal perjalanan musik rock metal di Indonesia kurang masif. Untuk itu, di momen perayaaan Hari Film Nasional, dokumenter soal perjalanan musik cadas di Indonesia coba dihadirkan.

Berjudul Gelora Magnumentary: Saparua, dokumenter ini mencoba memperlihatkan sisi dan perjalanan musik rock dan metal yang pernah berjaya di Indonesia.

Baca Juga:

Hari Film Nasional, Anies Bagikan Cerita Bioskop Tertua dan Sosok Legenda Film

Sambut Hari Film Nasional, Reza Rahadian Ajak Penonton Kembali ke Bioskop

Gelora Magnumentary: Saparua

Bandung, khususnya Saparua menjadi salah satu tempat ikonik yang menjadi saksi sejarah pergerakan musik tersebut sejak tahun 1970-an hingga akhir 1990-an. Sejarah tersebutlah yang hendak diceritakan di dokumenter yang akan tayang tahun 2021 ini.

Dokumenter ini disutradarai oleh Alvin Yunata, gitaris dari Teenage Death Star. "Film ini adalah sebuah jurnal dari sebuah gedung yang kemudian sejak berdirinya dengan sengaja dialihfungsikan juga sebagai sarana panggung seni dan hiburan dari generasi ke generasi," jelas Alvin.

"Namun ada fenomena menarik di decade terakhir sebelum gedung ini dinon-aktifkan, yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektivitas di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekedar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu, di mana sebuah titik melting pot ini melahirkan ideologi baru di kalangan budaya pop, ruang pertukaran informasi dan sebuah pergerakan yang mampu membawa gedung ini sebagai salah satu kuil rock n roll dalam sejarah scene musik underground di Indonesia,” sambungnya.

Gelora Magnumentary: Saparua dihadirkan untuk mengapresiasi sejarah scene rock-metal di Indonesia. Edy Khemod selaku Creative Director dari Cerahati sebagai upaya merekam perjalan musik cadas di Indonesia.

“Proyek ini inisiatif dari pihak Cerahati, Arian13 dan Roni Pramaditia. Kami sama2 berasal dari Bandung, dan turut merasakan pertumbuhan budaya di Bandung era 90an saat gerakan independen mulai membesar di Bandung. Dan kami menyadari ternyata selama ini belum banyak dokumentasi dari momen sejarah tersebut,” jelasnya.

“Dokumenter ini penting karena ada motivasi yang berbeda yang generasi ke depan perlu tahu. Bahwa pergerakan musik independen saat itu memulai tidak atas dasar ekonomi tapi passion atas musiknya. Hal ini penting agar generasi ke depan tidak melulu berorientasi ada kesuksesan ekonomi,” sambung Edy.

Selain dokumenter, film ini juga menghadirkan penampilan Rocket Rockers, Burgerkill, Teenage Death Star, The Panturas, Koil, Jasad, KILMS, Avhath dan lain lain lalu kolaborasi brand fashion bersama Maternal, Lawless, Wellborn dan lain lain dan juga kolaborasi musisi bersama Buluk Superglad, Otong Koil, Robi Navicula, Aska Rocket Rockers dan lain lain.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini