Presiden Jokowi Sambut Baik 5 Opsi Menyelamatkan Industri Perfilman Indonesia dari Pandemi COVID-19

Lintang Tribuana, Jurnalis · Kamis 11 Maret 2021 08:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 11 206 2375991 presiden-jokowi-sambut-baik-5-opsi-menyelamatkan-industri-perfilman-indonesia-dari-pandemi-covid-19-0Nq7Y9H2rK.jpg Pelaku industri menyodorkan 5 opsi menyelamatkan perfilman Indonesia dari pandemi COVID-19. (Foto: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

JAKARTA - Pelaku industri perfilman mengajukan lima opsi kepada pemerintah untuk menyelamatkan dunia film dari pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama setahun terakhir. 

Permintaan pertama adalah pemberian stimulus untuk distribusi film lewat dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan mekanisme transparan. Kedua, menggiatkan kampanye ‘Kembali Menonton di Bioskop’ berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid-19. 

Hal ini, menurut pelaku industri perfilman yang terdiri dari produser film, sutradara, aktor, pemilik bioskop, pengurus asosiasi, serta Badan Perfilman Indonesia, untuk menghilangkan stigma negatif menonton bioskop di tengah pandemi. 

Ketiga, keringanan pajak hiburan atas bisnis film Indonesia. Keempat, langkah cepat, nyata, dan tegas memberantas pembajakan film. Terakhir, percepatan vaksinasi bagi para pekerja industri film. 

Presiden Joko Widodo diketahui menyambut baik lima permintaan tersebut dan meminta langkah konkret pemetaan stimulus dan rancangan penyebarannya yang dapat dipertanggungjawabkan. 

Presiden menyatakan akan segera berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk menyusun paket stimulus sembari terus berkomunikasi dengan pelaku industri seiring dengan usaha penanggulangan COVID-19, vaksinasi, dan pemulihan ekonomi nasional. 

Untuk meyakinkan penonton, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mengatakan, kementeriannya akan melakukan sertifikasi CHSE (Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keselamatan) dan Environmental Sustainability (pelestarian lingkungan)) untuk bioskop.

Baca juga: Mukena Hitam, Permintaan Terakhir Rina Gunawan Sebelum Berpulang

Pemerintah Pusat juga akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mulai melakukan pembukaan bioskop-bioskop di area kuning yang belum dibuka. Untuk menangani pembajakan, Presiden Jokowi akan segera membuat satuan kerja yang merupakan gabungan Kepolisian Republik Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Sementara untuk vaksinasi, Menteri Pariwisata Sandiaga Uno sedang melakukan pendataan hingga 14 Maret 2021. Pendataan itu berkoordinasi dengan Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan vaksinasi bisa dimulai mulai pada awal April 2021.

"Segenap pekerja film berterima kasih atas respons cepat Presiden, Menparekraf, dan jajaran Kabinet Indonesia Maju. Semoga setiap langkah konkret koordinasi pemerintah pusat, daerah, dan pelaku industri akan mengembalikan kejayaan film Indonesia. Bagi kami, film Indonesia adalah bakti untuk negeri dan kami siap bekerjasama serta menyiapkan langkah konkret dan strategi yang matang bersama pemerintah,” kata Chand Parwez, Ketua Badan Perfilman Indonesia.

Industri perfilman Indonesia yang sebelum pandemi menduduki peringkat sepuluh dunia sebagai pasar film terbesar di dunia dengan nilai USD500 juta pada akhir 2019, menderita penurunan hingga 97 persen sepanjang tahun 2020.

 Sejak dibukanya Daftar Negatif Investasi di bidang perfilman di tahun 2016, perfilman Indonesia memasuki era baru dengan jumlah penonton yang terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan pertumbuhan sebesar 20 persen per tahun selama 4 tahun terakhir sebelum pandemi.

Di lain pihak, industri Perfilman Indonesia adalah industri yang menopang perekonomian Indonesia secara signifikan dengan lebih dari 50.000 tenaga kerja di subsektor film, animasi, video pada 2019. Sementara ada lebih dari 2.500 jumlah usaha.

Kontribusi industri film Indonesia ke GDP sebesar Rp15 triliun pada 2019. Bioskop yang berkontribusi atas 90 persen sumber pendapatan distribusi film Indonesia semenjak Maret 2020 telah ditutup sementara dan hingga saat ini masih terdapat lebih dari 50 persen lokasi bioskop di tanah air yang belum diizinkan untuk beroperasi kembali.

Hal ini tentu menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat untuk kembali menonton di bioskop saat sudah diberlakukan pelonggaran atas pembatasan tempat-tempat umum seperti restoran dan tempat rekreasi lainnya. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa sampai saat ini bioskop dianggap relatif aman untuk dikunjungi karena para pelaku usaha bioskop melakukan protokol kesehatan.

Jade Flinn, anggota fakultas dari John Hopkins Medicine menyatakan, “Semua orang menghadap arah yang sama, hal tersebut membantu mengurangi penyebaran virus COVID-19”. Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh Profesor Budi Haryanto, Ketua Satgas Pengendalian Covid-19 dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Dia menjelaskan, “Sebenarnya risiko penyebaran dalam bioskop lebih kecil kalau dibandingkan dengan restoran. Kita tahu, sampai sekarang tidak banyak yang menunjukkan terjadinya klaster baru dari restoran.” 

Di samping itu, sistem sirkulasi dan ventilasi udara di bioskop telah didesain sedemikian rupa untuk tetap memasukkan udara segar ke dalam ruangan bioskop. Terlebih lagi, bioskop telah dilengkapi dengan sistem sirkulasi canggih seperti HEPA filter seperti di pesawat udara dan sistem desinfeksi UV-C light untuk membersihkan udara.

Dampak pandemi bagi pekerja film juga sangat besar. Tahun 2019, terdapat 129 judul film nasional yang dirilis di bioskop dengan total penonton film nasional sebesar 52 juta orang. Ini berarti satu judul film ditonton oleh kurang lebih 400.000 penonton. 

Bandingkan dengan kondisi selama pandemi COVID-19. Data per akhir Februari 2021 menunjukkan, terdapat 9 judul film nasional yang dirilis di bioskop dengan total penonton hanya sekitar 400.000 orang. 

Kerugian penerimaan pajak dari penonton bioskop mencapai Rp1,5 triliun dan pendapatan tidak langsung bioskop sekitar Rp1,2 triliun. Adanya platform distribusi secara streaming pun belum dapat menopang industri dan nilai pembelian film yang belum dapat menutup biaya produksi, terutama untuk film dengan bujet besar. 

“Film bukan hanya merupakan komoditas hiburan, tapi juga membawa wajah Indonesia ke dunia internasional. Secara potensi, industri film Indonesia dengan keberagaman budaya dan jumlah penduduk Indonesia sebagai pasar utama sangatlah besar dan karenanya sangat layak untuk diselamatkan,” kata Shanty Harmayn, produser film Indonesia.*

Baca juga: Blakblakan, BCL Ungkap Juri Indonesian Idol Bersuara Paling Jelek 

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini