JAKARTA - Sudah lebih dari 50 karya dari Pramoedya Ananta Toer yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Atas karya-karyanya yang luar biasa, Pram tercatat enam kali dinominasikan di Nobel Sastra. Meski tak sekalipun ia berhasil membawa pulang pialanya.
Baca Juga: Kisah Cinta Pramoedya Ananta Toer, Kepincut Wanita Penjaga Stand
Ketidakberhasilan Pram dalam meraih Nobel Sastra, kabarnya lantaran pria yang wafat pada 30 April 2006 lalu ini bergabung dengan organisasi Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat). Lekra merupakan organisasi yang berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Belum bisanya pria kelahiran Blora tersebut meraih Nobel Sastra menimbulkan dugaan dari beberapa sumber. Selain diisukan bahwa penerjemahan karyanya ke bahasa asing buruk, muncul spekulasi yang mengatakan bahwa ada campur tangan tokoh pemerintahan Indonesia dalam penjurian penghargaan tersebut.
Alasan lain yang kabarnya membuat Pram tak mendapatkan satupun Nobel Sastra lantaran banyak sastrawan yang tidak senang dirinya bisa mendapatkan penghargaan.

Meski sempat dikucilkan dinegara sendiri, bahkan pernah dipenjara di pulau Buru dan dilarang keras untuk menulis, saat berada di luar negeri, sosok Pram bisa dikatakan cukup dihormati karena karya-karyanya.