nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Siti Rukiah Kertapati, Sastrawati Ternama yang Terpinggirkan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 25 November 2018 00:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 25 33 1982375 siti-rukiah-kertapati-sastrawati-ternama-yang-terpinggirkan-hwkVMM603b.jpg Siti Rukiah (Foto: Dokumentasi Keluarga)

JAKARTA - Literasi Indonesia pernah berjaya di era lalu. Hadir sekian banyak sastrawan yang mewarnai literasi Indonesia. Namun karena pergolakan politik di era lalu, banyak yang menjadi korban dan namanya hilang ditelan zaman.

Dilansir BBC Indonesia, Siti Rukiah Kertapati tak pernah lagi terdengar sejak pergolakan politik pada 1965, padahal dia adalah sosok perempuan yang aktif di dunia literasi dengan sejumlah karya sastra.

Baca Juga: Blakblakan, Reino Barack Kerap Diingatkan Ibadah oleh Syahrini

Baca Juga: Aisyahrani Benarkan Keinginan Syahrini untuk Menikah Tahun Ini, dengan Reino Barack?


Siti Rukiah juga mendapatkan penghargaan Seni Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) pada 1952 untuk kumpulan cerita pendek dan sajak.

Selama periode 1946-1952, Rukiah banyak menghasilkan tulisan dan menerbitkan novel pada 1950 berjudul Kejatuhan dan Hati.

Kiprah Rukiah di dunia literasi itu, diceritakan Giovanni Dessy Austriningrum dalam diskusi tentang Siti Rukiah Kertapati, Sastrawati Era Kemerdekaan, di Yogyakarta pertengahan November lalu.

"Dia menjadi sosok perempuan yang sangat penting di gerakan literasi pada masa itu. Jarang sekali, apalagi penulis perempuan yang menceritakan tentang periode kemerdekaan sastra revolusi saat itu," kata Giovanni, peneliti isu perempuan yang terlibat dalam penelitian tentang 10 penulis perempuan Indonesia yang telah meninggal dan hilang dalam sejarah Indonesia.

Giovanni mengatakan kehidupan Rukiah sangat dinamis dan melewati beberapa masa, lahir pada masa penjajahan Belanda, mengalami masa pendudukan Jepang, dan melalui masa-masa revolusi kemerdekaan serta kejadian setelahnya seperti tragedi 1965 dan masa Orde Baru.

"Perjalanan hidupnya, prosesnya berkarya, dan perkembangan pemikirannya tidaklah stagnan," kata Giovanni kepada wartawan di Yogyakarta, Yaya Ulya, untuk BBC News Indonesia.

Penelitian Giovanni menemukan, pada usia 18 tahun Rukiah telah menjadi seorang pengajar di Sekolah Gadis Purwakarta.

Dan pada masa perang kemerdekaan, Rukiah ikut terlibat di Palang Merah Indonesia (PMI).

Siti Rukiah juga terlibat dalam berbagai aktifitas perjuangan perempuan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Tapi aktifitas yang dilaluinya dalam ruang-lingkup dunia literasi. Dalam ruang-lingkup itu pula, Rukiah menemukan sosok lelaki yang pada akhirnya namanya dia sematkan di belakang nama Rukiah, menjadi Siti Rukiah Kertapati.

"Sengaja dihilangkan"

 

Namun di tengah banyak karya ini, namanya langsung hilang setelah 1965.

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yerry Wirawan, mengatakan nama Rukiah Kertapati memang sengaja dihilangkan dalam sejarah perempuan dan sejarah sastra Indonesia moderen.

"Karena dia anggota Lekra," kata Yerry.

Menurut Yerry, waktu itu HB Jassin memuji Rukiah sebagai sastrawan perempuan. Namun karena menjadi anggota Lekra, namanya dihapus dalam buku antologi sastra Indoneaia karya Jassin.

Sebagai sejarawan, Yerry melihat S. Rukiah Kertapati merupakan perempuan hebat dan representasi modernitas di masa awal Republik Indonesia.

Rukiah menjadi perempuan muda yang mampu menjadi penggerak literasi waktu itu dan menjadi perempuan pertama yang bukunya menang hadiah Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Selain itu, Rukiah juga menjadi perempuan kedua yang menulis dan menerbitkan karyanya, setelah istri Husein Djajadiningrat.

Yerry juga mengatakan Rukiah merupakan penggerak sasta anak yang waktu itu masih sangat sedikit.

"Ini penting karena menjadi penulis dan sampai menerbitkan karyanya bukan hal mudah pada masa itu bagi perempuan. Apalagi Rukiah bukan berasal dari keluarga ternama," katanya.

Menurut Yerry generasi sekarang, khususnya penggerak literasi harus mengetahui peran Rukiah pada masa itu agar generasi muda sekarang bisa mendapatkan referensi tentang gerakan perempuan Indonesia pada masa awal berdirinya Indonesia.

(aln)

BERITA FOTO
+ 5

Literasi Media MNC Group Sambangi Universitas Mercu Buana

Amanda mengungkapkan media sosial yang digunakan generasi milenial memengaruhi pandangan orang lain tentang Indonesia. Oleh karena itu, Amanda menyarankan generasi milenial menggunakan media untuk hal-hal yang positif salah satunya yaitu citizen journalism.

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini