JAKARTA – Clarissa Tanoesoedibjo, CEO V+Short sekaligus Executive Producer series My Chef in Crime mengungkapkan pembeda utama series tersebut dengan drama kriminal lain yang marak di pasar nasional.
Meski sama-sama mengusung genre investigasi, crime, dan thriller, namun My Chef in Crime memiliki pembeda karena konsep kuliner autentik Nusantara yang diusungnya di dalamnya.
“Yang bikin My Chef in Crime menjadi unik adalah karena kasus dalam series ini diselesaikan lewat kuliner Indonesia,” tutur Clarissa saat ditemui di Lippo Mall Nusantara, Semanggi, Jakarta Selatan, pada 5 Agustus silam.
Ia menjelaskan bahwa setiap episode dalam serial ini bakal menyoroti hidangan tradisional yang berbeda-beda. Awal cerita series ini misalnya, menghadirkan menu khas ikan patin.
“Nanti setiap episode akan ada hidangan tradisional yang berbeda. Ini menjadi kesempatan untuk kita memperkenalkan makanan Indonesia ke kancah global. Bahwa kuliner Nusantara ternyata tak hanya rendang,” ujarnya.
Clarissa Tanoesoedibjo berharap, series My Chef in Crime tak sekadar menjadi tontonan segar, namun juga mampu menjangkau demografi penonton yang lebih luas, baik pria maupun wanita, serta menjadi standar atau acuan yang dapat diadaptasi negara lain.
Disutradarai Sondang Pratama, series My Chef in Crime hadir dalam delapan episode dengan durasi rata-rata 35 menit. Serial ini menyajikan perpaduan unik antara misteri pembunuhan, investigasi, drama keluarga, hingga dinamika romansa slow-burn.
Kisah series ini berpusat pada Rama (Roy Sungkono), seorang chef berbakat yang dituduh sebagai tersangka utama pembunuhan rivalnya. Demi membersihkan nama baiknya, Rama mengandalkan keahlian kulinernya untuk menguak kasus tersebut.