"Dia hanya tahu cara menyayangi orang-orang yang dia cintai. Kadang orang dewasa justru terlalu sibuk dan terlalu rumit. Lewat Ringgo, saya diingatkan lagi bahwa hal-hal yang paling penting dalam hidup sebenarnya sangat sederhana,” ucapnya.
Produser Denny Siregar menegaskan bahwa down syndrome tidak pernah diposisikan sebagai “pesan” dalam film ini, melainkan sebagai perspektif yang membawa penonton kembali pada kemanusiaan yang paling mendasar.
“Lewat Ringgo, saya merasa kita diingatkan kembali pada sesuatu yang sangat sederhana: bahwa manusia bisa saling mencintai tanpa syarat dan saling menjaga tanpa harus melihat perbedaan. Di tengah dunia yang semakin rumit, kadang kita justru belajar dari mereka yang memandang hidup dengan lebih jujur dan lebih tulus,” katanya.
Salah satu hal yang membuat film Tanah Runtuh berbeda adalah bagaimana film ini memperlakukan pemerannya. Ridho Khaliq, yang sendiri adalah penyandang down syndrome, tidak diposisikan sebagai objek belas kasihan atau inspirasi bagi orang lain. Ia adalah rekan bermain yang setara, membawa energi yang genuine dan natural ke dalam setiap adegan.
Vino G. Bastian, yang memerankan Idham, seorang anggota yang secara tak terduga menjadi pelindung Kai dan Ringgo, mengakui bahwa proses bekerja bersama Ridho meninggalkan kesan yang dalam.
“Ada kejujuran, ada cinta, dan ada ketulusan dalam cara Ringgo melihat dunia, sesuatu yang mungkin mulai jarang kita temukan dalam kehidupan orang dewasa hari ini. Kadang yang paling penting bukan menjadi yang paling kuat, melainkan tetap punya hati untuk peduli pada orang lain,” ujar Vino G. Bastian.