JAKARTA - Film Aku Harus Mati menjadi perbincangan hangat publik setelah materi promosi film tersebut menuai kecaman masyarakat. Seperti diketahui, poster dan billboard film itu menampilkan visual iblis mengerikan yang membuat anak-anak ketakutan.
Tak hanya itu, judul film tersebut dianggap bisa memengaruhi psikologis anak muda untuk melakukan tindak bunuh diri. Akibat kontroversi tersebut, performa Aku Harus Mati di box office dikabarkan melempem.
Spekulasi terkait jumlah penonton itu kemudian ditanggapi oleh Iwet Ramadhan selaku produser film tersebut. Dia menegaskan, hingga kini jumlah penonton film Aku Harus Mati masih berada dalam jalur yang positif.
Dia mengungkapkan, penonton justru menunjukkan respons positif saat menyaksikan film tersebut. “Banyak sekali anak muda yang bilang, ‘Ini film horor yang kami tunggu-tunggu. Film yang jump scare-nya rapat dengan adegan gore-nya yang banyak'," ungkapnya.
Meski mengklaim tren cukup positif, namun Iwet Ramadhan enggan membeberkan angka detail jumlah penonton film tersebut. Namun dia kembali menegaskan, film Aku Harus Mati masih bersaing di minggu pertama penayangannya.
"Kalau jumlah penonton ini sebenarnya kami masih masuk dalam benchmark dari film di minggu pertama. Saya enggak mau jawab di part itu (jumlah penonton), pokoknya saya bilang, kami sudah masuk dalam benchmark," ujarnya.
Menurut Iwet Ramadhan, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kontroversi promosi berimbas buruk atau justru malah menumbuhkan rasa penasaran hingga mendongkrak jumlah penonton.
Meski sempat menghadapi kendala promosi, Iwet optimistis film Aku Harus Mati tetap mendapat tempat di masyarakat. "Karena film horor adalah tontonan yang paling diminati masyarakat Indonesia. Fakta itu tidak bisa dibantah," tuturnya.
Film Aku Harus Mati berkisah tentang Mala (Hana Saraswati), seorang perempuan yatim piatu yang terlilit utang pinjol demi menunjung gaya hidup hedon. Suatu hari, dia kembali ke panti asuhan tempatnya dibesarkan.
Di sana, Mala justru terjebak perjanjian iblis yang menjadikan nyawa orang terdekatnya sebagai tumbal. Perjanjian itu, Mala harus memilih antara kutukan dari perjanjian mematikan itu atau menyelamatkan sang sahabat.
Film karya sutradara Hestu Saputra dan penulis skenario Aroe Ama yang memulai debutnya di bioskop pada 2 April 2026 itu juga dibintangi oleh Amara Sophie, Prasetya Agni, dan Bambang Paningron.*
(SIS)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri