Periskop 2022: Tunggu Keajaiban di Semester 2, Konser Musik Bagai Mendung Tanpo Udan

Pernita Hestin Untari, Jurnalis · Selasa 04 Januari 2022 19:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 04 205 2527410 periskop-2022-tunggu-keajaiban-di-semester-2-konser-musik-bagai-mendung-tanpo-udan-MRtCqsA9Bw.jpg Ilustrasi Konser (Foto: Unsplash)

JAKARTA- Pandemi virus corona (Covid-19) memang membawa dampak besar bagi industri musik. Pasalnya, konser musik yang biasanya digelar secara langsung harus menjadi virtual.

Keadaan tersebut pun sudah berlangsung hampir dua tahun belakangan ini. Lalu bagaimana dengan tahun ini? berikut nasib konser musik di tahun ini menurut kacamata promotor seperti yang berhasil dirangkum Okezone dalam Periskop2022:

Konser Musik

BACA JUGA:

- Erika Carlina Tak Puas Gaga Muhammad Dituntut 4,5 Tahun Penjara: Kurang Setimpal

- Ramalan Roy Kiyoshi Tahun 2022 Pandemi Covid-19 Berakhir tapi Bakal Ada Bencana Besar, Waspada!

Bagai Mendung Tanpo Udan

CEO Rajawali Indonesia Comunnication dan Founder Prambanan Jazz, Anas Syahrul Alimi mengibaratkan nasib konser musik di tahun ini bagai lagu milik Denny Caknan feat, Ndarboy Genk, Mendung Tanpo Udan. Pasalnya, dia mengaku hanya bisa menunggu regulasi yang pasti terkait penyelenggaraan konser skala besar di Tanah Air.

Belum lagi, kemungkinan adanya lonjakan kasus Covid-19 setelah libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022.

"Ibaratnya, kalau orang menjemur pakaian kan kering enggak, basah juga enggak, tapi bau apek kan. Itu analoginya sekarang, kita tinggal nunggu saja. Mau hujan membawa keberkahan atau mendung, nunggu saja enggak ada keberkahan," kata Anas kepada Okezone, Selasa (4/1/2022).

"Kalau tidak salah kemarin kan (regulasi) menunggu liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Dari libur Nataru ini kira-kira akan ada pergerakan seperti apa, nanti tunggu sampai Februari , apakah Februari ada kenaikan signifikan atau tidak, makanya tergantung itu. Makanya kita masih was-was," sambungnya.

Secercah Harapan di Semester II Tahun 2022

Kendati demikian, Anas mengungkapkan dirinya memiliki pandangan konser musik skala besar akan mulai bisa terealisasikan di semester dua tahun ini. Mengingat program vaksinasi yang kini juga sudah cukup merata. Namun, pastinya dengan pembatasan dan protokol kesehatan yang ketat.

"Seharusnya sih sudah mulai di semester dua, kalau menurut saya sudah boleh. Walaupun belum seperti 2019, masih terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat. Itu menurut pandangan saya," kata Anas lagi.

Konser Virtual Tidak Menjanjikan Bisnis

Anas pun mengaku dirinya memiliki harapan besar terkait penyelenggaran konser musik di semester dua tahun ini. Terlebih, menurutnya konser virtual tidak menjanjikan bisnis yang besar dibandingkan konser live.

Pastinya juga, DNA konser musik adalah hadir langsung ke lokasi, di mana penonton bisa merasakan langsung euforia konser dan bertemu langsung musisinya.

"Virtual itu hanya sebagai syarat saja, karena secara bismis enggak ada dan cenderung merugi untuk saat ini, untuk konser ya," tegasnya.

Sehingga sekali lagi, Anas pun lebih menunggu terkait regulasi yang pasti untuk penyelenggaraan konser ditahun ini. Terlebih menurutnya konser online tidak dapat dapat dilakukan terus menerus untuk kelangsungan bisnis di industri musik.

Namun, meskipun hanya bisa menunggu. Anas pun mengaku harus putar otak untuk membuat alternatif. Bahkan dia membuat sebuah cafe agar ekosistem tetap berjalan.

"Saya bikin Prambanan Jazz Cafe, ada amplifier kecil-kecilan dan kapasitas sekitar 200 orang, ada gig kecil-kecilan di situ, tapi juga enggak ada bisnis besar, yang penting ekosistem tetap berjalan," katanya.

Regulasi yang Adil

Terakhir, Anas pun pastinya berharap agar pandemi segera usai, minimal tidak ada kenaikan kasus Covid-19. Sehingga, konser musik pun bisa digelar secara bertahap tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu, dia pun berharap agar Pemerintah memberikan regulasi yang pasti terkait konser. Mengingat disituasi sekarang ini, banyak sekali hal yang tidak pasti dan cepat berubah.

"Semoga pastinya pemerintah memberikan regulasi kebijakan yang cukup yang jelas. Jadi tidak ragu-ragu, boleh ya boleh, atau tidak ya tidak. Harus ada regulasi yang jelas dan adil, jangan sampai acara yang dilakukan Pemerintah, Pemda, dan Pemprov boleh, tapi swasta enggak boleh, itu harus clear dan jelas," katanya.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwsata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) diketahui sudah mulai memberikan izin terkait penyelenggaraan pameran dan konser musik. Namun, sejumlah peraturan dan teknis penyelenggaraan konser musik yang mulai diizinkan diserahkan kepada pemerintah daerah.

Pasalnya setiap daerah memiliki tingkat pembatasan sosial yang berbeda. Ini artinya memang belum semua daerah di Indonesia dapat menyelenggarakan konser musik.

"Ini masih akan diturunkan dalam peraturan-peraturan daerah karena pada dasarnya setiap pertunjukan live ata panggung-panggung itu adanya di pemerinta daerah," kata Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kemparekraf, Ari Juliano Gema pada September 2021.

Di Jakarta misalnya, pemerintah provinsi DKI Jakarta masih melakukan evaluasi terkait uji coba pembukaan konser di PPKM Level 1. Mereka juga harus mengatur kapasitas, luas arena konser, pengaturan jarak hingga protokol kesehatan.

"Jadi ini perlu evalusai, diskusi yang cukup, jadi sabar dulu," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, pada November 2021.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini