Riwayat Musik Keroncong, dari Budak Kapal sampai Budak Portugis

Doddy Handoko , Jurnalis · Senin 17 Mei 2021 08:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 17 205 2410977 riwayat-musik-keroncong-dari-budak-kapal-sampai-budak-portugis-FNYiym8VRJ.jpg Salah satu grup musik keroncong Indonesia, Krontjong Toegoe (Foto: Dok. Krontjong Toegoe)

JAKARTA - Musik keroncong masuk ke Indonesia dibawa oleh pelaut dan para budak kapal niaga sejak abad ke-16. Di kala itu, keroncong dikenal dengan fado, sejenis musik dari Portugis.

Musik jenis keroncong awal mula di Malaka dari daratan India yang selanjutnya dimainkan para budak dari Maluku. sekitar abad ke-17, pengaruh Portugis melemah di Nusantara, namun musik ini tak ikut hilang.

Awal mulanya wujud musik ini yaitu moresco, yakni satu buah tarian asal Spanyol. Setelah Itu salah satu lagunya yang disusun kembali oleh Kusbini yang dikenal dgn nama Kr. Moritsu, yang diiringi oleh media musik dawai.

Seiring dengan perkembangan sejarah dan perkembangan musik keroncong, tidak sedikit fasilitas musik tradisional yang sejak mulai muncul, seperti seruling dan gamelan.

Baca Juga:

Kisah Nini Carlina, Berawal dari Panggung ke Panggung di Banyuwangi

Krontjong Toegoe, Band Keroncong Jakarta yang Eksis Sejak 32 Tahun Silam

Pada sekitar abad ke-19, musik keroncong ini sudah mulai popular di berbagai daerah di nusantara, hingga ke Semenanjung Malaya, hingga tahun 1960-an.

Selanjutnya, musik keroncong juga mulai redup sebab sejumlah musik popular yang masuk ke industri musik Indonesia, diantaranya musik rock yang berkembang sejak th 1950 dan berkembangnya musik Blues, Jazz sejenisnya pada tahun 1961 hingga sekarang ini.

Akan tapi, meski musik di Indonesia makin berkembang, keroncong konsisten ada dan dinikmati oleh beraneka lapisan warga di Indonesia dan di negeri Malaysia pula hingga saat ini. Alat-alat musik yg dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu keroncong pada awalnya cuma diiringi oleh musik dawai (biola, ukulele, dan selo).

Fasilitas musik perkusi jarang digunakan. Perlengkapan fasilitas musik seperti ini masih diperlukan oleh keroncong Tugu, yakni komunitas keroncong keturunan budak-budak Portugis dari Ambon yang ada di daerah tugu (Batavia) Jakarta Utara tempo doeloe.

Setelah Itu musik ini perkembangannya meluas ke daerah selatan yaitu Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi yang berbaur bersama musik Tanjidor pada tahun 1880-1920. Pada tahun 1920-1960, pusat perkembangan musik keroncong kemudian pindah ke daerah Solo dan musiknya serta jadi lebih lambat cocok dengan sifat orang Jawa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini