Menurut penuturan Profesor Bagong, sekalipun artis berperangai baik, jika sistem sosial di sekitarnya buruk, sistem tersebut dapat mengubah perangai yang semula baik. Lingkungan sosial pula akan memengaruhi cara berpikir seseorang.
“Kalau good person, orangnya baik, tapi bad system itu bisa mengubah good person jadi bad person, karena lingkungan buruk bisa memperngaruhi, semacam habitat mempengaruhi cara berpikir. Kalau misalnya ya kita nonton TV, dulu 10 tahun lalu adegan ciuman kan enggak ada, sekarang di film dan sinetron kan ada. Dulu orang ribut sekarang kan enggak, karena sesuatu semakin terbiasa dikonsumsi, atau kita saksikan, itu batas-batas moralitas akan berubah,” imbuhnya.
“Sama seperti artis mungkin hari pertama, hari ke dua kerja kaget-kaget, tapi hari ketiga keempat, mungkin dari kecil-kecilan ya dari yang tidak merokok jadi merokok, enggak minum bir jadi minum bir, tidak prostitusi akhirnya terlibat prostitusi, itu kan prosesnya gradual tidak seketika. Pengaruh habitus itu kuat ya,” tambahnya.
Profesor Bagong sendiri melihat artis yang terseret di kasus prostitusi online sebagai korban dari dunia dan lingkungan sosialnya. Terlebih perempuan selalu diperlakukan dengan tidak adil dalam pemberitaan. Kalau lebih ditelaah dari pemberitaan yang sudah ditayangkan, menurut Profesor Bagong tidak ada yang memperlihatkan atau mengungkap identitas laki-laki, yang terpengaruh dari sistem patriarki.