"Kalau zaman dulu, menawarkan lagu. Kita rekam di kaset, dengan tape, lalu kita kasih syair, terus kita sodorkan. Kebetulan ada produser yang tertarik. Bukan karena lagunya tapi karena suara saya waktu itu. Itu produsernya namanya Mas Pompi, pernah bikin grup Nokus kalau enggak salah," lanjutnya.
Berhasil masuk dapur rekaman, lantas bagaimana awal mula ia bernama panggung ‘Kempot’. Menurut penuturan Didi, banyak orang yang tak mengetahui arti dari nama panggung ‘Didi Kempot’ dan justru mengacu kepada lesung pipi atau memang biasa disebut kempot.
Nyatanya, anggapan tersebut salah. Kempot adalah sebuah singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup pengamen asal Solo yang membawa Didi hijrah ke Jakarta.
"Seperti saya bilang tadi, saya datang dari jalanan. Kempot itu Kelompok Pengamen Trotoar, dari grup menjadi solo tapi tetap mempertahankan kempotnya karena kita tak bisa memungkiri bahwa kita terlahir dari jalanan," imbuh Didi.
400 Buah Lagu Namun Minim Royalti
Sepanjang 28 tahun berkarier di belantika musik Tanah Air, Didi Kempot mengatakan telah menciptakan kurang lebih 400 buah lagu. Dari sekian banyak lagunya karyanya, tak sedikit yang menjadi hits, seperti salah satunya adalah ‘Stasiun Balapan’.
Ironisnya, dari sekian banyak lagu yang telah diciptakannya. Pemilik nama Didi Prasetyo ini hanya mendapat sedikit jatah royalti. Ia mengaku bingung mengapa sistem royalti di Indonesia masih seperti demikian.