JAKARTA – Indonesia sejatinya memiliki banyak sekali musisi bertalenta. Jika di ranah dangdut kita mengenal Rhoma Irama, maka di genre Campur Sari nama Didi Kempot bagaikan raja. Hebatnya lagi, selama berkarier puluhan tahun, ia sudah menciptakan lebih dari 400 lagu namun minim royalti.
Namun di balik kesuksesannya tersebut, pria dengan nama asli Didi Prasetyo ini memiliki perjalanan karier yang tak mudah. Sedikit demi sedikit, Didi Kempot merangkak naik dan menjadi salah satu penyanyi yang sangat dipandang.
Bercerita panjang kepada Okezone, Didi berbagi kisah tentang perjalanan kariernya dari bawah. Tak hanya soal musik tradisional, pria berusia 50 tahun ini juga mengungkapkan beberapa impian dan pandangannya terhadap dunia musik yang mulai shifting ke digital era.
Awal Karier, Didi Muncul Jadi Pengamen
Tak langsung muncul sebagai artis rekaman terkenal, Didi – sapaan akrabnya, mengawali perjuangan sebagai seorang musisi dari jalanan sebagai pengamen. Pada medio 1984 – 1985, Didi mulai menekuni profesinya itu di Solo. Dua tahun berada di kota kelahiran, Didi Kempot beserta teman-temannya lantas mencoba peruntungan di Jakarta. Berada di Ibu Kota, ia akhirnya menemukan secercah harapan untuk menggeluti dunia yang sangat dicintainya itu.
"Saya berangkat dari pengamen jalanan pada 1986, dari 1984 hingga 1985 saya ngamen di kota kelahiran saya di Solo. 1987 sampai 1989 mencoba mengadu nasib di Jakarta. Saya berkumpul dengan teman-teman di Slipi, Palmerah, terkadang di Cakung atau di Senen," kenangnya kepada dalam sebuah kesempatan wawancara dengan penulis.
Pada zaman tersebut, para musisi jalanan berlomba untuk masuk dapur rekaman dengan cara yang sederhana. Mereka merekam lagu lalu menawarkan langsung ke para produser. Keberuntungan sangat diuji di tahap ini, jika memang berbakat, produser biasanya tak ragu mengajak musisi jalanan untuk rekaman dan berkarier di industri musik. Jika tidak, mereka mungkin akan kembali ke kerasnya jalanan.