Celeb Story: Didi Kempot, Berawal di Stasiun Balapan dan 400 Lagu Minim Royalti

Ady Prawira Riandi, Jurnalis · Sabtu 27 Mei 2017 20:39 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 27 33 1701411 celeb-story-didi-kempot-berawal-di-stasiun-balapan-dan-400-lagu-minim-royalti-Wtpc2DaoVk.jpg Didi Kempot. (Foto: Ady/Okezone)

JAKARTA – Indonesia sejatinya memiliki banyak sekali musisi bertalenta. Jika di ranah dangdut kita mengenal Rhoma Irama, maka di genre Campur Sari nama Didi Kempot bagaikan raja. Hebatnya lagi, selama berkarier puluhan tahun, ia sudah menciptakan lebih dari 400 lagu namun minim royalti.

Namun di balik kesuksesannya tersebut, pria dengan nama asli Didi Prasetyo ini memiliki perjalanan karier yang tak mudah. Sedikit demi sedikit, Didi Kempot merangkak naik dan menjadi salah satu penyanyi yang sangat dipandang.

Bercerita panjang kepada Okezone, Didi berbagi kisah tentang perjalanan kariernya dari bawah. Tak hanya soal musik tradisional, pria berusia 50 tahun ini juga mengungkapkan beberapa impian dan pandangannya terhadap dunia musik yang mulai shifting ke digital era.

Awal Karier, Didi Muncul Jadi Pengamen

Tak langsung muncul sebagai artis rekaman terkenal, Didi – sapaan akrabnya, mengawali perjuangan sebagai seorang musisi dari jalanan sebagai pengamen. Pada medio 1984 – 1985, Didi mulai menekuni profesinya itu di Solo. Dua tahun berada di kota kelahiran, Didi Kempot beserta teman-temannya lantas mencoba peruntungan di Jakarta. Berada di Ibu Kota, ia akhirnya menemukan secercah harapan untuk menggeluti dunia yang sangat dicintainya itu.

"Saya berangkat dari pengamen jalanan pada 1986, dari 1984 hingga 1985 saya ngamen di kota kelahiran saya di Solo. 1987 sampai 1989 mencoba mengadu nasib di Jakarta. Saya berkumpul dengan teman-teman di Slipi, Palmerah, terkadang di Cakung atau di Senen," kenangnya kepada dalam sebuah kesempatan wawancara dengan penulis.

Pada zaman tersebut, para musisi jalanan berlomba untuk masuk dapur rekaman dengan cara yang sederhana. Mereka merekam lagu lalu menawarkan langsung ke para produser. Keberuntungan sangat diuji di tahap ini, jika memang berbakat, produser biasanya tak ragu mengajak musisi jalanan untuk rekaman dan berkarier di industri musik. Jika tidak, mereka mungkin akan kembali ke kerasnya jalanan.

"Kalau zaman dulu, menawarkan lagu. Kita rekam di kaset, dengan tape, lalu kita kasih syair, terus kita sodorkan. Kebetulan ada produser yang tertarik. Bukan karena lagunya tapi karena suara saya waktu itu. Itu produsernya namanya Mas Pompi, pernah bikin grup Nokus kalau enggak salah," lanjutnya.

Berhasil masuk dapur rekaman, lantas bagaimana awal mula ia bernama panggung ‘Kempot’. Menurut penuturan Didi, banyak orang yang tak mengetahui arti dari nama panggung ‘Didi Kempot’ dan justru mengacu kepada lesung pipi atau memang biasa disebut kempot.

Nyatanya, anggapan tersebut salah. Kempot adalah sebuah singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar, grup pengamen asal Solo yang membawa Didi hijrah ke Jakarta.

"Seperti saya bilang tadi, saya datang dari jalanan. Kempot itu Kelompok Pengamen Trotoar, dari grup menjadi solo tapi tetap mempertahankan kempotnya karena kita tak bisa memungkiri bahwa kita terlahir dari jalanan," imbuh Didi.

400 Buah Lagu Namun Minim Royalti

Sepanjang 28 tahun berkarier di belantika musik Tanah Air, Didi Kempot mengatakan telah menciptakan kurang lebih 400 buah lagu. Dari sekian banyak lagunya karyanya, tak sedikit yang menjadi hits, seperti salah satunya adalah ‘Stasiun Balapan’.

Ironisnya, dari sekian banyak lagu yang telah diciptakannya. Pemilik nama Didi Prasetyo ini hanya mendapat sedikit jatah royalti. Ia mengaku bingung mengapa sistem royalti di Indonesia masih seperti demikian.

"Lagu saya tuh banyak, karya saya tuh banyak. Banyak yang sudah mendapatkan sesuatu dari lagu-lagu saya entah itu diputar di radio mana atau karaoke, untuk royalti kita sampai saat ini belum. Saya belum menikmati dari apa yang telah saya kerjakan," keluhnya.

Sampai saat ini, Didi Kempot merasa kebingungan bagaimana mengurus royalti dari lagu-lagu yang diciptakannya. Padahal Didi merasa bahwa pemerintah dan hukum sudah memiliki aturan jelas tentang royalti dan hak cipta. 

"Gimana ya, aturan di negara ini juga sudah ada. Ada barang pasti ada yang membuat, ada sebuah karya pasti ada yang menciptakan. Hukum sudah ada, rambunya sudah jelas, tapi masih saja ditabrak," tutupnya.

Kenangan di Balik Lagu ‘Stasiun Balapan’

Single ‘Stasiun Balapan’ menjadi salah satu lagu paling populer milik Didi Kempot. Alunan melodi indah serta lirik yang penuh makna membuat lagu ini meledak di pasaran. ‘Stasiun Balapan’ bercerita tentang sebuah stasiun di kota kelahiran Didi Kempot, di Solo. Lagu itu diciptakan olehnya saat masih mengamen di Solo. Terinsipirasi dari para penumpang yang ada di sana, Didi berhasil membuat lirik dengan menyertakan sindiran kepada mereka.

"Saya ngamen, saya istirahat di sebuah stasiun namanya ‘Stasiun Balapan’. Saya sering istirahat di sebuah warung atau kadang saya nongkrong di dalam stasiun, kita lihat orang mau berangkat ke Jakarta, ke Surabaya, atau kemana, kadang berperlukan, pamit, saya hanya mengingatkan lewat lagu. Awas lho, jangan lupa nanti kalau sudah sampai. Tapi kita sindir-sindir saja sih di situ," katanya. 

Berdasarkan kisahnya, ‘Stasiun Balapan’ menjadi album perdana Didi Kempot. Ia merekam lagu tersebut pada 1998, kemudian albumnya berhasil diluncurkan satu tahun setelahnya.

Harapan Didi Kempot di Industri Musik Indonesia

Industri musik kini sudah shifting ke era digital di mana bentuk fisik kurang diminati oleh pasar. Melihat hal tersebut Didi Kempot pun mengaku tak bisa melawan arus perubahan.

Namun, di balik itu, ia memiliki harapan mulia di industri musik Tanah Air. Dirinya berharap agar para pencipta lagu mendapatkan hak yang lebih dari royalti.

"Harapan kita seharusnya dapat memakmurkan para pencipta lagu, harusnya saya juga merasakan tapi ada daya sampai sekarang saya juga belum menikmati (hasil) dengan kemajuan teknologi seperti ini," sebut Didi Kempot.

Didi juga berharap tetap bisa menerapkan regenerasi di musik campur sari, menurutnya, regenerasi sangat penting karena jika tidak terjadi maka sebuah aliran musik bisa mati.

"Regenerasi masih ada, sampean kalau main ke daerah-daerah saya masih banyak anak-anak muda yang nyanyiin lagu-lagu campur sari dangdut. Ya saya men-support, menciptakan lagu, mengajarkan nyanyi di studio juga," pungkasnya penuh harap.

(FHM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini