JAKARTA - Sinetron Banyak Jalan Menuju Surga garapan MNC Pictures siap menemani pemirsa setia RCTI sepanjang bulan Ramadhan. Sinetron ini mengusung kisah tentang perjalanan hidup, penyesalan, dan kesempatan kedua.
Sinetron religi ini menghadirkan tiga karakter utama: Soleh, Kobar, dan Dadang yang memiliki masa lalu kelam. Ketiga karakter itu diperankan oleh Fajar Nuca, Gianluigi, dan Abdur Arsyad.
Fajar Nuca mengungkapkan, sinetron Banyak Jalan Menuju Surga bercerita tentang tiga upaya tokohnya untuk kembali ke jalan yang benar namun menghadapi banyak rintangan.
“Ini kisah tiga pemuda yang punya masa lalu yang cukup kelam dan sekarang mencoba kembali ke jalan yang benar. Namun sayangnya, banyak sekali hambatan untuk menuju ke surga,” ujar Fajar.
Abdur Arsyad, pemeran Dadang menjelaskan, sinetron Banyak Jalan Menuju Surga mencoba menampilkan realita hidup bahwa pertobatan memang tak selalu berjalan mulus.
“Biasanya orang mau tobat, kadang ada yang mulus, kadang ada yang berkerikil. Nah, kami ini mewakili orang-orang yang harus melewati jalan berkerikil itu," ungkapnya.
Menariknya, chemistry di antara ketiga pemain terbangun secara natural. Bahkan peran mereka dibumbui humor khas ketiganya yang sama-sama berlatar belakang komedi.
“Kalau chemistry, kami enggak akrab-akrab banget sih sebenarnya. Sudah saling kenal dari dulu, tapi tergabung di satu proyek yang sama baru kali ini,” ujar Gianluigi.
Selain drama dan komedi, Banyak Jalan Menuju Surga juga membawa pesan moral yang kuat. Salah satu pesan yang disampaikan adalah pentingnya memberi kesempatan kedua bagi setiap orang.
“Setiap orang itu berhak punya kesempatan kedua untuk berubah. Second chance,” katanya.
Sementara itu Abdur juga mengungkapkan, sinetron Banyak Jalan Menuju Surga memberikan pesan keberanian menghadapi masa lalu.
“Kalau kita punya kesalahan apa pun, coba cari jalan keluar yang benar, jangan cari jalan keluar yang salah," ujar Fajar.
Ketiga aktor ini berharap, sinetron ini dapat menghadirkan tontonan yang tidak hanya menghibur namun juga membawa penontonnya merenungi makna sebuah penyesalan dan perubahan.**
(SIS)