“Masa dewasanya diganggu kekuasaan! Tapi Pram tidak berhenti menulis. Di pulau itu lahir karya tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah kaca,” kata Soesilo.
Tetralogi karya Pramoedya menuai sukses besar. Hal ini ditandai dengan diterjemahkannya keempat buku dalam 33 bahasa. Bahkan, di Indonesia, buku yang terbit di tahun 1980 itu mengalami cetak ulang pada September 2005.
Sayang, kesuksesan buku itu di berbagai negara tak membuat Pramoedya mendapatkan penghargaan Nobel. Pram hanya mendapat nominasi untuk penghargaan itu saat ajang penghargaan tersebut digelar di Swedia.
Baca Juga: Hotman Paris Terkejut Jelly Jelo Lahirkan Anak dari Brondong
Tapi itu bukan perkara besar bagi Pram. Baginya, menulis bukanlah untuk mendapatkan penghargaan. “Pram bilang, ‘Saya menulis bukan untuk mendapat hadiah, tapi supaya buku itu dibaca,’“ pungkas Soesilo.
(LID)