SEOUL - Film baru Lee Min Ho dan Yoo Hae Jin, The Assassin(s), tengah menjadi sorotan di Korea Selatan. Film arahan Hur Jin Ho tersebut menuai kontroversi karena dianggap melakukan distorsi sejarah.
Kontroversi itu berawal dari cerita The Assassin(s) yang mengambil latar peristiwa penembakan Presiden Park Chung Hee dalam acara peringatan Hari Kemerdekaan di Seoul, Korea Selatan, pada 15 Agustus 1974.
Saat sedang berpidato, pembunuh bayaran bernama Mun Se Gwang melepaskan tembakan ke arah sang presiden. Namun tembakan itu meleset dan justru mengenai dan menewaskan Ibu Negara Yuk Young Soo.
Akibat percobaan pembunuhan itu, Mun Se Gwang kemudian dikaitkan dengan jaringan pro-Korea Utara. Korea JoongAng Daily mengungkapkan, kontroversi bermula ketika skenario The Assassin(s) justru fokus pada ‘aktor’ di balik penembakan sang Ibu Negara.
Film itu bahkan memasukkan cerita tentang konspirasi yang melibatkan pihak berkuasa, termasuk kemungkinan keterlibatan KCIA (badan intelijen Korea Selatan) atau orang-orang di sekitar Park Chung Hee.
Kritikus film kemudian menilai, cerita yang dihadirkan The Assassin(s) berpotensi membuat penonton percaya bahwa kisah itu bukan sekadar fiksi melainkan fakta sejarah. Beberapa netizen juga menyoroti makna jamak dalam judul The Assassin(s).
Penggunaan makna jamak itu memberi kesan bahwa Mun Se Gwang bukanlah satu-satunya orang di balik aksi percobaan pembunuhan tersebut. Atas dugaan distorsi sejarah itu, Lee Jong Bae, mantan anggota Dewan Kota Seoul melaporkan tim produksi film tersebut ke polisi pada 29 September 2026.
Lee dalam laporannya, menjerat sutradara, penulis skenario, dan produser film The Assassin(s) atas dugaan pencemaran nama baik dan penyebaran informasi palsu.