Guna menjaga performa tersebut, V+ Short memadukan sajian konten lokal Indonesia, regional Asia Tenggara, hingga produksi internasional. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan variasi tontonan bagi pemirsa global.
Menurutnya, fenomena microdrama sendiri telah mengubah peta industri hiburan internasional dalam dua tahun terakhir, meski pelopornya bermula dari Tiongkok sekitar enam tahun lalu. Di Asia Tenggara, Indonesia memegang peranan sangat strategis.
“Di pasar internasional, kita perlu memperhatikan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, karena kita tidak hanya memiliki jumlah unduhan terbanyak saat ini, tetapi juga memiliki jumlah konsumen terbesar dari segi demografi. Kita adalah kelompok demografi yang muda, produktif, dan mengutamakan ponsel yang sangat cocok untuk pasar konten berdurasi singkat, bukan?” tambah Clarissa
Lebih lanjut, dia menuturkan bahwa secara strategi bisnis, V+ Short saat ini tengah membidik pasar lapis kedua (second tier) dan pasar berkembang (emerging markets) sebagai target utama. Negara-negara seperti India, Meksiko, dan Filipina menjadi basis penikmat konten yang sangat potensial karena memiliki kedekatan kultur penceritaan.
“Mengapa? Karena mereka memiliki relevansi lintas batas yang lebih kuat dengan Indonesia dalam hal representasi, serta tema-tema dalam penceritaannya. Oleh karena itu, negara-negara seperti India, Meksiko, dan juga Filipina mengonsumsi banyak konten kami," ujarnya.