"Teriaknya tuh mulai dari marah, sampe minta tolong, sampe ketawa. Jadi pertama-tama ada yang teriak-teriak gue pikir orang lagi nonton bola. Nggak taunya ternyata nih kok tiba-tiba dia nangis, kok tiba-tiba dia marah, tiba-tiba dia ketawa, minta tolong, 'Ampun, tolong'... Jadi kayak semua emosi kayaknya campur aduk, Bos," tuturnya lagi.
Meski merinding, Dimas mengaku lebih merasa sedih melihat kondisi orang tak dikenal itu. Baginya, praktik pasung menjadi potret miris dari cara keluarga menangani anggota yang sakit demi keamanan bersama, meski di sisi lain terasa sangat tidak manusiawi.
"Lebih ke sedih sih, tapi ya gimana ya, mungkin sebenarnya itu salah satu cara yang dilakukan untuk mengamankan. Baik untuk diri yang sedang sakit atau orang sekitarnya supaya tidak berbahaya buat diri dia dan orang lain," kata suami Ratu Tika Bravani ini.
Selain itu, Dimas juga menghadapi tantangan teknis tak mudah selama menjalani proses syuting. Dia harus mempelajari bahasa isyarat hanya dalam waktu tiga hari demi perannya sebagai Manto.
Hal ini dikarenakan adanya perubahan karakter mendadak dari sang sutradara, Dedi Mercy, di saat-saat terakhir menjelang syuting dimulai.