Share

Tampil Beda, Ardhito Pramono Jadikan Musik Jadul Sebagai Referensi Berkarya

Lintang Tribuana, Okezone · Kamis 14 Juli 2022 08:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 14 205 2629269 tampil-beda-ardhito-pramono-jadikan-musik-jadul-sebagai-referensi-berkarya-aCSOyXY05t.jpeg Ardhito Pramono. (Foto: Instagram/@ardhitopramono)

JAKARTA - Ardhito Pramono menjadikan selera musik lawas sebagai referensi pembuatan karya-karyanya. Ia menilai, geliat industri musik hingga era 1990-an adalah masa keemasan.

"Golden age musik kan tahun 1950 sampai 1990-an lah. Jadi kayaknya gue enggak akan lari ke sana (musik masa kini) sih," katanya, ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, dikutip Kamis (14/7/2022).

Ardhito Pramono

Lebih lanjut, Ardhito mengungkapkan rasa kagumnya pada musisi lawas yang bisa membuat karya luar biasa di tengah keterbatasan di zaman itu. Mereka berlomba-lomba membuat karya yang punya ciri tersendiri.

"Terkagum-kagum sama keterbatasan referensi musisi senior zaman dulu yang akhirnya bisa bikin musik jauh lebih berwarna," kata sang musisi.

"Dengerin Chandra Darusman sama Addie MS tuh jauh banget. Dengerin January Christy sama Vina Panduwinata, beda jauh," lanjutnya.

Referensi musik lawas Ardhito ini pun dibuktikan kembali melalui perilisan album teranyarnya bertajuk Wijayakusuma. Di album ini, dia menunjukkan kualitas pop Indonesia periode empat hingga lima dekade silam.

Pria 27 tahun itu menjadikan sejumlah musisi lawas Indonesia sebagai inspirasinya. Di antaranya adalah Keenan Nasution, Margie Segers, Chrisye, Rafika Duri, Dian Pramana Poetra, Rien Djamain, Utha Likumahuwa, hingga Candra Darusman.

Untuk pertama kalinya juga, Ardhito melahirkan karya sendiri dengan sentuhan Indonesia, setelah sebelumnya selalu mengeluarkan karya berbahasa Inggris. Ia menulis lirik-lirik lagunya dengan padanan aksara Indonesia yang beragam.

Wijayakusuma menjadi kumpulan karya keenam darinya setelah lima album pendek beruntun Ardhito Pramono (2017), Playlist, Vol. 2 (2017), a letter to my 17 year old (2019), Craziest thing happened in my backyard (2020), dan Semar & Pasukan Monyet (2021).

Dalam album ini, total 8 lagu yang ia ciptakan bersama produser Gusti Irwan Wibowo, Erikson Jayanto, dan Hezky Y.H. Nainggolan dan Narpati โ€˜Oomleoโ€™ Awangga yang juga menulis beberapa lirik di Wijayakusuma.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini