Share

Olivia Nathania Didakwa 4 Tahun Penjara Gegara Penipuan CPNS, Kuasa Hukum: Kan Baru Diancam

Ravie Wardani, Jurnalis · Rabu 26 Januari 2022 16:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 26 33 2538185 olivia-nathania-didakwa-4-tahun-penjara-gegara-penipuan-cpns-kuasa-hukum-kan-baru-diancam-yi2WxAi1K0.jpg Olivia Nathania. (Foto: Instagram)

ANAK Nia Daniaty, Olivia Nathania, menerima dakwaan dari JPU (Jaksa Penuntut Umum) dengan ancaman empat tahun penjara, gegara kasus penipuan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). 

Wanita yang akrap disapa Oi ini didakwa atas pasal 263 juncto pasal 65, pasal 378 juncto pasal 65 dan pasal 372 juncto pasal 65, tentang penipuan surat dan pemalsuan atau penggelapan.

Menanggapi hal itu, Andy Mulia Siregar selaku kuasa hukum pun buka suara.

“Ancaman minimal empat tahun. Namanya ancaman biasalah, kan baru terancam,” kata Andi saat ditemui usai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (26/1/2022).

Andy menilai kesalahan kasus tersebut tak hanya dari kliennya. Dia pun mengaku geram lantaran Agustin, mantan guru Oi, seolah lepas tanggungjawab atas kasus tersebut.

Pasalnya, Agustin disinyalir berperan sebagai perantara kepada korban lainnya.

“Kami beranggapan, jangan semua kesalahan ditimpa pada terdakwa, Oi, karena perbuatan Oi itu tidak lepas dari perbuatan lainnya,” ucap Andy.

 BACA JUGA:Anak Olivia Nathania Mencari sang Mama, Nia Daniaty: Saya Bingung Mau Jawab Apa


BACA JUGA:Olivia Nathania Kirim Surat untuk Nia Daniaty dari Penjara, Isinya Bikin Terenyuh

 olivia nathania

“Dalam dakwaan jelas disebutkan bahwa Oi itu memberikan info kepada pihak Ibu Agustin, untuk anaknya dalam transkrip WA tadi. Kemudian jaksa dalam dakwaannya mendakwanya menerangkan, Agustin meneruskan info tadi,” tambah Andy.

Sekadar informasi, Olivia Nathania dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 23 September 2021 lalu. Diketahui laporan tersebut dilayangkan oleh pria bernama Karnu, orang yang mengaku sebagai korban penipuan.

Laporan tersebut pun tertuang dalam nomor LP/B/4728/IX/SPKT/Polda Metro Jaya itu menggunakan Pasal 378 dan atau Pasal 372 dan atau Pasal 263 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Penggelapan, Penipuan, serta Pemalsuan Surat.

Sementara korban dari kasus tersebut diduga mencapai 225 orang dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp9,7 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini