Share

Mengenal Penulis Komik Jaka Sembung, Punakawan, Om Pasikom dan Doyok

Doddy Handoko , Jurnalis · Minggu 16 Mei 2021 17:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 16 33 2410854 mengenal-penulis-komik-jaka-sembung-punakawan-om-pasikom-dan-doyok-y1NAriqM8G.jpg Komik Karya Tatang S (Foto: Dok. Pribadi Shopee)

JAKARTA - Komik seperti Jaka Sembung, Punakawan, Om Pasikom dan Doyok pernah menggapai kejayaan di era 1960 hingga 1990 an. Saat itu adalah era keemasan komik dari berbagai genre, wayang, percintaan, humor atau silat.

Berikut profil komikus legendaris, diambil.dari berbagai sumber.

Djair Warni

Djair Warni adalah satu dari “The Big Seven”. Penulis komik ini menjadi salah satu dari tujuh besar karena karyanya Jaka Sembung, Djaka Gledek, Si Tolol, Kiamat Kandang Haur, Malaikat Bayangan, dan Toan Anak Jin.

Djair tergolong komikus otodidak. Ia sudah membuat komik sejak masih remaja. Padahal, dulu ayahnya menaruh harapan supaya Djair bercita – cita sebagai insinyur.

“Waktu itu saya sering dimarahi Ayah karena lebih senang membuat komik daripada belajar. Akhirnya saya mencuri – curi kesempatan,” tutur Djair.

Karya-karya Ganes T.H. (Si Buta dari Goa Hantu), Jan Mintaraga (Rio Purbaya), dan Hans Jaladara (Panji Tengkorak) juga menjadi referensi bagi Djair.

Pada masa jayanya, penghasilan yang diperolehnya cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya.

Maklum, untuk satu cerita terdiri dari 7 sampai 10 jilid ia memperoleh Rp100 ribu, angka yang tinggi untuk ukuran tahun 1960-an.

Sayang, zaman keemasannya sulit terulang kembali. Ia bahkan pesimistis.

“Sekarang sudah ada televisi, bioskop, mall dan video game. Anak – anak sudah terbiasa dicekoki komik – komik import terjemahan dari luar negeri,” kata Djair.

Mansyur Daman

Mansyur Daman lahir di Jakarta pada tanggal 3 Juli 1946. Mandala Siluman Sungai Ular adalah komik yang menjadi karya master piecenya yang paling terkenal di jagad komik tanah air.

Dengan wajah ganteng, berjiwa luhur, badan yang tegap, ikat kepala serta memiliki ilmu yang tinggi (sakti) merupakan persyaratan lengkap untuk seorang jagoan.

Konon Pak Man terinspirasi oleh wajah Robert Conrad, bintang film Amerika yang memerankan film seri televisi the Wild Wild West untuk wajah tokoh Mandala.

Tatang. S

Nama asli Tatang S. adalah Tatang Suhendra. Pada tahun 1970-an, kabarnya ia pernah menjadi komikus yang bayarannya paling tinggi di Bandung.

Tatang dikenal sebagai komikus cerita – cerita silat. Karena ambisinya dalam mencipta komik sangat besar, tidak jarang ia sering ‘berbenturan’ dengan rekan – rekannya sesama komikus.

Kasus yang menonjol adalah ketika ia terlibat ‘perang komik’ dengan Ganes TH. Ganes merupakan seorang komikus yang kesohor dengan karyanya, ‘Si Buta Dari Goa Hantu’.

Pada suatu ketika, Ganes pindah dari sebuah penerbitan. Penerbit tersebut tak terima dan sakit hati dengan kepindahan Ganes. Tak lama kemudian Tatang direkrut oleh penerbit itu untuk menyaingi komik sohor karya Ganes.

Tatang lalu membuat komik ‘Si Gagu dari Goa Hantu’ untuk menyaingi ‘Si Buta dari Gua Hantu’-nya Ganes. Lalu apa yang terjadi? Ternyata komik karya Tatang ini cuma beredar sebanyak tiga edisi sampai akhirnya dibredel.

‘Si Gagu dari Goa Hantu’-nya Tatang membuat dunia perkomikan Indonesia gempar. Secara tidak langsung, Tatang telah menjadi korban pemainan penerbit, sehingga karir Tatang sebagai seorang komikus silat hancur.

Karir Tatang kembali bersinar setelah ia membuat komik dengan tokoh Punakawan (Gareng, Petruk, Semar, Bagong).

Pada 27 April 2003, Tatang S. meninggal dunia. Menurut sejumlah rumor yang beredar, ia meninggal karena penyakit kencing manis.

G.M. Sudharta


Bernama lahir Gerardus Mayela Sudarta, namun setelah berganti keyakinan ia merubah namanya menjadi Gafur Muhamad Sudarta.

Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 20 September 1945. Lahir dan besar di lingkungan keluarga yang memegang teguh adat Jawa, ia dikenal sebagai kartunis dengan karikatur tepo seliro (tenggang rasa).

Gambar – gambar karikaturnya walau men’cubit’ namun tetap mengundang senyum. Menurutnya, sebuah karikatur dinilai berhasil bila dapat mengkritik tanpa menyinggung suatu pihak.

Usai menamatkan SMA di Klaten, tahun 1965, ia meneruskan pendidikan ke ASRI Yogyakarta. Semasa kuliah, sempat menjadi kartunis di majalah Merah Putih, Jakarta 1966.

Di tahun yang sama, bekerja sama dengan Pramono mendesain diorama Monumen Nasional. Ia juga ikut andil dalam desain pembangunan Monumen Pahlawan Revolusi Lubang Buaya.

Sebagai karikaturis GM Sudarta peka menangkap berbagai fenomena sosial, ekonomi, politik dan budaya di tanah air. Sejak awal menapaki karir sebagai pengisi kolom karikatur kompas di tahun 1967.

GM Sudarta telah melahirkan ratusan karya. Namun namanya sudah terlanjur identik dengan Oom Pasikom yang kerap menyapa para pembaca harian Kompas.

Peraih penghargaan Adinegoro 1983 dan 1984 ini lebih banyak menghabiskan waktu di kediamaan yang asri di Klaten dan ia membangun Graha Budaya Sekartaji sebagai konstibusi konkrit bagi masyarakat Klaten.

Keliek Siswoyo

Boss Doyok atau penciptanya adalah seorang pria berusia menjelang senja, Keliek Siswoyo, kelahiran Kota Gede, Yogyakarta.

Di masa remajanya ia merantau ke Jakarta menantang nasib. Ia terlunta-lunta di Tanjung Priok, dan tempat nongkrongnya adalah di sekitar Bioskop Permai yang terletak di pinggiran by pass.

Di sana para pengangguran, setengah pengangguran dan mereka yang ingin bebas dari kekangan rutinitas berkumpul.

Keliek Siswoyo memiliki bakat melukis dan membuat kartun sejak duduk di SMP. Akan tetapi ia belum berani mengirimnya ke media cetak.

Ketika nongkrong di Bioskop Permai itu bersama teman-temannya yang berasal dari berbagai suku, Keliek melihat ada Surat Kabar Harian Pos Kota, satu koran ibukota dengan bidikan pasar kalangan bawah.

Pasar Pos Kota adalah kalangan di mana Keliek Siswoyo hidup, sehingga dengan mudah ia turun ke dalam isi berita harian tersebut.

Setiap minggu Pos Kota menyediakan ruangan bagi kartunis muda untuk menampilkan karyanya, lewat Pos Kota Minggu. Ke sanalah Keliek kemudian mengirimkan gambar-gambarnya dan sering dimuat.

Pengasuh rubrik itu adalah pelukis dan juga kartunis senior Leo Purwono. Ia melihat ada kepekaan sosial dalam kartun karya Keliek Siswoyo.

Pos Kota kemudian menerbitkan Lembaran Bergambar (Lembergar), yaitu sisipan dua kali seminggu berisi kartun, lukisan, komik, vignet, puisi bergambar dan sebagainya.

Melihat sambutan pasar begitu antusias, maka pimpinan koran tersebut menerbitkan Lembergar setiap hari. Leo kemudian memanggil Keliek untuk bergabung, menciptakan tokoh kalangan bawah yang kritis terhadap keadaan sekitarnya.

Mas Keliek Siswoyo banyak bicara bila dipancing tentang dunia musik atau film, terutama musik dan film di era 1970-an dan 1980-an yang banyak dinikmatinya. Juga saat dimintai tanggapan pada isu-isu sosial politik yang disaksikannya di teve dan termuat di koran.

Kelucuan Mas Keliek ada pada karyanya, pada gambar-gambarnya. Pada tokoh Doyok, yang sering tampil dalam kisah-kisah sarkastis. Kritik sosial yang disampaikan dengan nada pahit, sarkasme.

Kartunis media lain menghormatinya sebagai seniman produktif yang tak pernah berhenti berkarya, ketika mereka hanya bisa tampil sesekali, atas pertimbangan halaman atau upaya menjaga kualitas. Mas Kelik adalah pekerja seni, yang hadir setiap hari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini