Share

5 Film Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Cocok Jadi Tontonan saat 17-an

Evan Oktavianus, Jurnalis · Senin 17 Agustus 2020 11:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 17 206 2263322 5-film-perjuangan-kemerdekaan-indonesia-cocok-jadi-tontonan-saat-17-an-5hJI1YZrw7.jpg Soekarno: Indonesia Merdeka.

JAKARTA - Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-75, Senin 17 Agustus 2020. Menyambut kemerdekaan, kisah perjuangan para pahlawan bangsa layak untuk diingat kembali.

Untuk mengenang jasa-jasa perjuangan para pahlawan, berikut 5 film bertemakan perjuangan kemerdekaan Indonesia:

1. Soekarno: Indonesia Merdeka (2013)

Soekarno awalnya diberi nama Kusno. Namun, nama itu diganti karena kondisinya sering sakit. Besar harapan, Soekarno (Ario Bayu) menjelma menjadi kesatria dalam pewayangan, layaknya tokoh Adipati Karno.

Harapan bapaknya terpenuhi, umur 24 tahun Soekarno berhasil mengguncang podium, berteriak: Kita Harus Merdeka Sekarang!!! Akibatnya, dia harus dipenjara, dituduh menghasut dan memberontak.

Namun, keberanian Soekarno tidak pernah padam. Pleidoinya yang sangat terkenal, ‘Indonesia Menggugat’, mengantarkannya ke pembuangan di Ende, lalu ke Bengkulu.

Di Bengkulu, Soekarno istirahat sejenak dari politik. Hatinya tertambat pada gadis muda bernama Fatmawati (Ratu Tika Bravani). Padahal, Soekarno masih menjadi suami Inggit Garnasih (Maudy Kusnaedi), perempuan yang lebih tua 12 tahun dan selalu menjadi perisai baginya ketika dipenjara maupun dalam pengasingan.

Soekarno: Indonesia Merdeka

Kini, Inggit harus rela melihat sang suami jatuh cinta. Di tengah kemelut rumah tangganya, Jepang datang mengobarkan perang Asia Timur Raya. Berahi politik Soekarno kembali bergelora.

Hatta (Lukman Sardi) dan Sjahrir (Tanta Ginting), rival politik Soekarno, mengingatkan bahwa Jepang tidak kalah bengisnya dibanding Belanda. Tapi Soekarno punya keyakinan, jika dikawan dengan cerdik, maka Jepang bisa dimanfaatkan untuk meraih kemerdekaan.

Hatta terpengaruh, tetapi Sjahrir tidak. Kelompok pemuda progresif pengikut Sjahrir bahkan mencemooh Soekarno-Hatta sebagai kolaborator. Keyakinan Soekarno tak goyah.

2. Kartini (2017)

Film ini adalah kisah nyata perjuangan Kartini, pahlawan wanita yang paling populer di Indonesia. Di Indonesia awal tahun 1900 Masehi, wanita tidak diperbolehkan memperoleh pendidikan tinggi, bahkan untuk para Ningrat sekalipun.

Wanita Ningrat Jawa saat itu hanya diharapkan menjadi Raden Ayu dan menikah dengan seorang pria Ningrat. Kartini (Dian Sastrowardoyo) tumbuh dengan melihat langsung bagaimana Ibu Kandungnya, Ngasirah (Christine Hakim) menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri, diangggap pembantu hanya karena tidak mempunyai darah Ningrat.

Kartini.

Ayahnya, Raden Sosroningrat (Deddy Sutomo), yang mencintai Kartini dan keluarganya juga tidak berdaya melawan tradisi saat itu. Kartini berjuang sepanjang hidupnya untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua orang, serta hak pendidikan bagi semua orang, terutama untuk perempuan.

Bersama kedua saudarinya, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita), Kartini membuat sekolah untuk kaum miskin dan menciptakan lapangan kerja untuk rakyat di Jepara dan sekitarnya.

Film Kartini adalah perjalanan penuh emosional dari sosok Kartini yang harus melawan tradisi yang dianggap sacral, bahkan menentang keluarganya sendiri untuk memperjuangkan kesetaraan hak untuk semua orang di Indonesia.

3. Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

Pak Tjokro (Reza Rahardian) lahir di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1882, ia merupakan bangsawan Jawa. Sejak kecilTjokro sudah dididik oleh kakeknya dengan berbagai macam cerita perjuangan dan paham-paham Islami.

Saat menginjak usia dewasa, orang tuanya menginginkan ia bekerja pada Belanda karena ayahnya pernah menjabat menjadi pegawai kolonial. Namun, dari kecil Tjokro hiperakitf dan kritis, ia sangat menolak untuk bekerja dengan orang kolonial.

Saat ke Semarang, Tjokro bertemu dengan tokoh bernama Ibrahim (Egi Fedly) yang menginformasikan bahwa, jika ingin belajar banyak mengenai realitas sosial rakyat kecil, Tjokro harus datang ke Surabaya.

Guru Bangsa.

Tiba di Surabaya, dia disambut hangat oleh banyak tokoh daerah di sana. Tjokro pun diajak melihat banyak buruh yang dipekerjakan paksa oleh Belanda. Dia lantas berpikir, bagaimana jika para tokoh daerah ini bekerja sama dengannya membentuk organisasi dagang yang besar.

Awalnya di Surabaya akan dibuat organisasi besar bernama SDI (Sarekat Dagang Islam) yang sebelumnya sudah dibentuk oleh Haji Samanhoedi di Solo. Utusan Samanhoedi ingin mengambil seorang tokoh penting yang nantinya akan dipilih menjadi pemimpin SDI di Surabaya. Hasilnya, Tjokro terpilih berdasarkan musyawarah.

Pada tahun 1912, SDI berubah menjadi SI (Sarekat Islam), jangkauannya diperluas Tjokro banyak melakukan orasi mengenai kesejahteraan rakyat pribumi. Dalam beberapa bulan, setelah ia gencar melakukan orasi dan kongres, anggota SI akhirnya bertambah sekitar dua juta orang.

Anggotanya bukan hanya dari kalangan atas, namun wong cilik. Bagaimanakah kelanjutan perjuangan Tjokro melawan para kolonial Belanda?

4. Battle of Surabaya (2015)

Film animasi ini menceritakan petualangan Musa, remaja tukang semir sepatu yang menjadi kurir bagi perjuangan pejuang arek-arek Suroboyo dan TKR dalam peristiwa pertempuran dahsyat 10 November 1945 di Surabaya. Cerita dibuka dengan dahsyatnya pengeboman kota Hiroshima oleh sekutu yang menandakan menyerahnya Jepang.

Tetapi, langit Surabaya kembali merah dengan peristiwa Insiden Bendera dan kedatangan sekutu yang ditumpangi oleh Belanda. Belum lagi gangguan oleh beberapa kelompok pemuda Kipas Hitam yang dilawan oleh Pemuda Republiken. Residen Sudirman, Gubernur Suryo, Pak Moestopo, Bung Tomo dan tokoh-tokoh lain yang membangkitkan semangat arek-arek Suroboyo & pemuda Indonesia melawan penjajahan.

Battle of Surabaya

Musa dipercaya sebagai kurir surat dan kode-kode rahasia yang dikombinasikan dengan lagu-lagu keroncong dari Radio Pemberontakan Rakyat Indonesia yang didirikan Bung Tomo. Berbagai peristiwa dilalui Musa sebagai kurir, kehilangan harta dan orang-orang yang dikasihi menjadi konsekuensi tugas mulia tersebut.

5. Hati Merdeka (2011)

Merupakan kelanjutan dari film sebelumnya dengan judul Merah Putih dan Darah Garuda. Hati merdeka menceritakan kejadian setelah menyelesaikan misi yang berakhir tragis dengan kehilangan anggota kelompok empat sekawan.

Kesetiaan kelompok ini kembali diuji dengan mundurnya pimpinan mereka, Amir (Lukman Sardi) dari Angkatan Darat. Tanpa pemimpin dan dengan dirundung, para kadet membawa dendam mereka dalam perjalanan misi mereka ke Bali untuk membalas dendam kepada Belanda.

Mereka dikirim ke Bali untuk membunuh Kolonel Raymer (Michael Bell, aktor berbakat dari Inggris yang meninggal April lalu), yang telah membunuh keluarga Tomas (Donny Alamsyah) di awal trilogi ini.

Tomas telah dipilih sebagai pemimpin baru dari kelompok kadet ini. Menghadapi meriam kapal perang Belanda, Marius yang playboy dan peminum (Darius Sinathrya) harus mengatasi rasa takutnya karena persaingannya dengan Tomas untuk memperebutkan Senja, seorang gadis berdarah biru (Rahayu Saraswati).

Hati Merdeka.

Sesampainya di Bali, kelompok taruna ini menyelamatkan Dayu (Ranggani Puspandya) dari kekejaman kelompok milisi KNIL Kolonel Raymer, tetapi salah satu dari kelompok kadet ini hampir saja mati terbunuh. Saat teman mereka sedang berjuang antara hidup dan mati, kelompok kadet ini bertemu dengan pemimpin pemberontak bawah tanah Wayan Suta (Nugie).

Tomas bentrok dengan pimpinan mereka terdahulu, Amir (Lukman Sardi) saat mereka merencanakan serangan terakhir untuk melawan milisi Raymer yang menimbulkan pertanyaan: Sejauh mana revolusi ini bisa menghancurkan kejahatan dan tetap mempertahankan idealismenya?

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini