nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pentas Indonesia Kita ke-34 Refleksi tentang Keserakahan Kita

Gabriel Abdi Susanto, Jurnalis · Sabtu 02 November 2019 17:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 02 33 2124988 pentas-indonesia-kita-ke-34-refleksi-tentang-keserakahan-kita-3EIbA9U7bq.jpg Pentas Indonesia Kita (Foto: Retno Wulandari)

JAKARTA - Gelaran Pentas Indonesia Kita yang ke-34 atau yang terakhir tahun ini menampilkan lakon 'Pemburu Utang'. Satu cerita yang menampilkan betapa nafsu serakah tetap datang dalam situasi apa pun termasuk dalam kondisi dimana semua orang terlihat miskin.

Baca Juga: Ada Menkeu Sri Mulyani di Pentas Indonesia Kita

Pentas Indonesia Kita

Paling tidak itu yang terlihat saat babak terakhir Cak Lontong dan Marwoto hendak menggondol uang-uang hasil buruan utang. Keduanya ternyata bersekongkol. Marwoto yang menjadi Ketua Partai Pengemis Nasional di awal cerita menyebutkan semua orang miskin yang menjadi anggotanya harus menanggung utang negara yang sudah tidak bisa lagi dibayar. Maka muncullah para petugas Pemburu Utang.

Di satu sisi, Cak Lontong yang merupakan pejabat negara setempat berlaku seolah tak kenal dengan Marwoto tapi keduanya bersekongkol untuk membawa lari uang hasil jarahan utang.

Pentas Indonesia Kita

Sayang seribu sayang. Dan itulah kelakuan banyak para koruptor. Keduanya lepas dari jeratan hukum. Cak Lontong dan Marwoto tak tersentuh penegak hukum. Akbar yang memang hidupnya miskin dari awal diperdaya temannya sendiri Cak Lontong agar mau bertukar status.

Akbar jadi kaya dan Cak Lontong jadi miskin. Akbar tentu saja gembira. Namun ternyata, itu hanya siasat Cak Lontong untuk kemudian membuat Akbar dihukum dan menjadi kambing hitam atas kelakuan Cak Lontong dan Marwoto yang hendak membawa lari uang hasil buruan utang.

Pentas Indonesia Kita

Kisah ini, meski disajikan dengan gaya lucu penuh canda serta membuat perut sakit sebenarnya menyakitkan. Intrik, benci, dengki, kesombongan, kerakusan dibalut dalam candaan. Para penonton mungkin banyak tertawa apalagi bila Inaya Wahid, Mucle, maupun Wisben menggelitik dan nyentil-nyentil sedikit dengan ujaran yang dilontarkan terkait kasus lem aica aibon, telikung menteri, dan yang lainnya.

Namun sebenarnya suasananya tidak menyenangkan. Empat penyanyi Sruti Respati, Endah Laras, Henry Janawati, dan Encik Khrisna menyerukan lewat vokal suara mereka yang luar biasa lagu yang berisi tentang peringatan pada kita manusia agar eling (ingat) dan waspodo (waspada).

Pentas Indonesia Kita

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang hadir menonton pentas ini di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat (1/11/2019) merasa sangat menikmati pertunjukan ini.

"Saya datang karena lakonnya. Agak sensi kalau ngomongin utang. Maka saya ajak eselon satu untuk ikut menonton," ujar Sri Mulyani saat diminta komentar oleh sang produser acara, Butet Kartaredjasa.

Baca Juga: Putrinya Terbukti Bukan Darah Daging Denny Sumargo, DJ Verny Minta Tes DNA Ulang

Sentilan-sentilan yang dilontarkan pun dirasakannya. "Ini mengingatkan kita yang masih mengurus negara agar ingat tujuan kita yakni mengurus rakyat,"ujarnya.

Pentas ini digelar dua kali Jumat, 1 November pukul 20.00 WIB dan Sabtu, 2 November pukul 20.00 WIB.

1
3
BERITA FOTO
+ 6

Melihat Latihan Teater Koma dengan Judul J.J Sampah Kota

Para pemain Teater koma saat sesi latihan dengan Lakon berjudul J.J Sampah Kota yang ditulis oleh N. Riantiarno dengan arahan Rangga Riantiarno yang berperan sebagai sutradara.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini