nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dapat Penghargaan Internasional, Pramoedya Ananta Toer Diprotes Tokoh Sastra

Hana Futari, Jurnalis · Sabtu 10 Agustus 2019 13:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 08 10 33 2090184 dapat-penghargaan-internasional-pramoedya-ananta-toer-diprotes-tokoh-sastra-Vc8fF9OjPs.jpeg Ilustrasi Pramoedya Ananta Toer (Foto: Feri/Okezone)

SURABAYA - Karya Pramoedya Ananta Toer tak hanya dikenal di Tanah Air namun juga di dunia internasional. Bahkan, Pram pun sempat mendapat anugerah Ramon Magsaysay Award di Filipina pada 1995 lalu.

Sayangnya, terpilihnya Pram untuk mendapat penghargaan tersebut ditentang oleh 26 tokoh sastra Indonesia. Para tokoh tersebut pun mendatangi yayaaan Ramon Magsaysay untuk melakukan protes.

Baca Juga:

Anak Sering Rewel Jelang Maghrib, Sarwendah Panggil Ustadz ke Rumah

Nikita Mirzani Pamer Foto Berbikini, Netizen: Akal Sehatnya Hilang

Pramoedya Ananta Toer

Mereka pun menutut pencabutan penghargaan untuk Pramoedya Ananta Toer. Hal tersebut lantaran Pram disebut-sebut sebagai juru bicara sekaligus anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang kala itu berbeda pandangan politik dengan pemerintah.

Akan tetapi dalam jangka waktu beberapa hari Taufiq Ismail meralat pemberitaan tersebut. Menurut sang pemrakasa, para tokoh bukan menuntut pencabutan tetapi mengingatkan sosok Pramoedya.

Menurutnya, banyak reputasi Pram sendiri tak banyak diketahui publik. Selain itu pemberian penghargaan Magsaysay kepada Pram dikatakan sebagai sesuatu kesalahan.  

Bukan hanya Taufiq Ismail, ada pula sosok Mochtar Lubis dalam protes tersebut. Mochtar Lubis berniat mengembalikan hadiah Magsaysay yang dia dapatkan pada 1985 jika anugerah yang sama juga diberikan pada Pram.

Menurut Moechtar Lubis hal yang sama juga akan dilakukan oleh HB Jassin. Namun nyatanya dalam kesempatan berbeda HB Jassin tak membenarkan apa yang diucapkan oleh Moechtar Lubis.

Pramoedya Ananta Toer

Para tokoh penandatangan petisi ini pun merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965 dan menuntut pertanggungjawaban Pram. Mereka meminta Pram untuk mengakui sekaligus meminta maaf akan segala peran tidak baik pada masa redupnya kreativitas pada zaman Demokrasi Terpimpin. Moechtar Lubis pun berpendapat bahwa Pram tak lain adalah pemimpin penindasan sesama seniman yang memiliki pandangan berbeda.

Pram menyangkal terlibat dalam berbagai aksi politik. Dia juga merasa difitnah, saat disebut-sebut ikut membakar buku. Dengan dasar tersebut Pram pun bersedia apabila kasusnya dibawa ke meja hijau.

Kebebasan berpendapat tak pernah diberikan kepada Pram sejak masa Orde Baru. Padahal, dalam berbagai pemberitaan, Pram kerap dipojokkan.

Sementara itu, Pram sendiri dikenal sebagai tokoh seniman yang tenar di lingkup Internasional. Hal tersebut menjadikan dia hidup lebih baik dalam masa penahanan di Pulau Buru.

Dunia Internasional tampaknya memberikan reputasi yang lebih baik pada sosok Pram. Tak jarang, ketika ada tamu dari luar negeri berkunjung, dia menjadi seseorang yang dikagumi.

1
2
BERITA FOTO
+ 9

Potret Aktris Cantik Luna Maya yang Kini Jarang Tampil di Layar Kaca

Luna Maya berfoto di tangga ketika berada di Ginza Sony Park. (Foto: Instagram @lunamaya)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini