JAKARTA – Buku menjadi media Pramoedya Ananta Toer untuk menuangkan segala perasaan hingga imajinasinya. Sebagai pengarang, pria yang akrab disapa Pram ini bahkan menyebut jika buku-buku itu ibarat anak dalam hidupnya.
Baca Juga: Rayakan Kebebasan Pram, Gala Premiere Bumi Manusia Digelar di Surabaya
“Begitu karya saya turun dari mesin dan tercetak, mereka adalah anak rohani saya. Menempuh hidupnya sendiri dalam masyarakat sosial budaya,” kata Pram dalam video yang diunggah Falcon di YouTube pada 25 Juli 2019.

Karya pertama Pramoedya Ananta Toer adalah Sepoeloeh Kepala Nica yang terbit pada 1946. Karya keduanya yang lahir di tahun 1947 berjudul Kranji-Bekasi Jatuh, berhasil ditunjukkan kepada keluarga.
“Dari Jakarta ke Blora, Pram bawa buku itu. Sampai dibacakannya ke hadapan kami, keluarga Pram,” kata adik Pram, Soesilo Toer dalam channel YouTube TVRI pada Desember 2018.

Sejak dua karya itu lahir, Pram menyebutnya sebagai masa keemasan remaja. Sayang, Pram harus mendekam di balik jeruji besi setelah itu karena ia dianggap sebagai antek komunis. Pria kelahiran 6 Februari ini di penjara di Bukit Duri, Jakarta pada tahun 1948-1949.
“Saat ditahan, Pram aktif menulis. Karya-karya seperti Perburuan, Keluarga Gerilya, Korupsi dan beberapa lainnya lahir di penjara itu,” lanjut Soesilo.
Setelah bebas, Pramoedya Ananta Toer merilis setidaknya 18 buku maupun cerpen. Namun karyanya yang berisi kehidupan orang Tionghoa di Indonesia berujung masalah.

Pasalnya ia banyak menuliskan tentang sejarah Tionghoa di Indonesia dan penyiksaan yang terjadi. Hal itu dianggap pemerintahan Orde Baru sebagai gerakan pro-komunis Tiongkok.
Hasilnya, Pram ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan pada 1965-1969. Tidak berhenti di situ, ia juga sampai diasingkan ke Pulau Buru, Maluku selama 10 tahun sejak 1969.
“Masa dewasanya diganggu kekuasaan! Tapi Pram tidak berhenti menulis. Di pulau itu lahir karya tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah kaca,” kata Soesilo.
Tetralogi karya Pramoedya menuai sukses besar. Hal ini ditandai dengan diterjemahkannya keempat buku dalam 33 bahasa. Bahkan, di Indonesia, buku yang terbit di tahun 1980 itu mengalami cetak ulang pada September 2005.
Sayang, kesuksesan buku itu di berbagai negara tak membuat Pramoedya mendapatkan penghargaan Nobel. Pram hanya mendapat nominasi untuk penghargaan itu saat ajang penghargaan tersebut digelar di Swedia.
Baca Juga: Hotman Paris Terkejut Jelly Jelo Lahirkan Anak dari Brondong
Tapi itu bukan perkara besar bagi Pram. Baginya, menulis bukanlah untuk mendapatkan penghargaan. “Pram bilang, ‘Saya menulis bukan untuk mendapat hadiah, tapi supaya buku itu dibaca,’“ pungkas Soesilo.
(LID)
Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri