Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Film Sultan Agung Diprotes Putri Raja Yogya, Ini Respons Hanung Bramantyo

Lidya Hidayati , Jurnalis-Kamis, 08 Maret 2018 |22:06 WIB
Film <i>Sultan Agung</i> Diprotes Putri Raja Yogya, Ini Respons Hanung Bramantyo
Hanung Bramantyo saat mengarahkan film Sultan Agung (Foto: Instagram/@sultanagung)
A
A
A

Sebagai lanjutan, GKR Bendara menyampaikan informasi tentang bagaimana harusnya ukuran parang di batik raja, permaisuri, hingga putri. “Rijksblad atau pranatan dalem, tercantum larangan2 motif-motif ter tentu di dalam Kraton. Pengunaan Parang hanya boleh untuk kerabat Kraton. Yg ber ukuran 12 cm hanya diperuntukan Raja, yg ber ukuran 8 cm untuk Permaisuri dan yg lebih kecil lagi unt putri dan Pangeran,” jelas GKR Bendara.

Raden Mas Rangsang, dinobatkan menjadi Raja Mataram dengan gelar Susuhunan Agung Hanyokrokusumo ketika umur 20th. Dari kecerdasan ABG ini, Mataram mengalami puncak Kejayaannya sebagai Kerajaan yang berani menentang VOC di Batavia. Hatinya yang keras tak kenal kompromi membuat Benteng VOC terkepung meski hanya sesaat. Banyak Tumenggung kebanggaan Mataram gugur sebagai kusuma bangsa. Di akhir pemerintahannya, susuhunan Agung mengabdikan dirinya kepada kebudayaan. Menciptakan karya Sastra Gending, tarian Bedoyo, motif batik parang Barong, tanggalan Jawa dan masih banyak lagi yang hingga sekarang masih dipergunakan. Dua kraton di Jogjakarta ( Kasultanan Ngayogjokarto Hadiningrat dan Puro Pakualaman ), dan Dua kraton di Surakarta ( Mangkunegaran dan Kasunanan ) adalah ahli waris beliau yang masih aktif, disegani dan dicintai rakyatnya hingga sekarang, termasuk saya. Banyak literatur menuliskan kekejaman beliau tatkala mengeksekusi para Tumenggungnya saat kalah perang di Batavia. Tapi disini, saya lebih mempercayai sikap beliau yang tak kenal kompromi kepada orang2 Asing dan para adipati yang lembek kepada mereka yang ingin menjarah negeri ini. ‘Para Tuca dan Ksatria yg bekerjasama dengannya itu tidak diperbolehkan menjadi Tuan Di negeri ini. Mukti utowo Mati ( Menang atau Gugur )’. Maka Batavia menjadi lautan api, sungai ciliwung berbau amis darah. Atas keberanian, kecerdasan dan keteguhan imannya kepada agama, beliau mendapatkan gelar ‘Sultan Abdulah Muhammad Maulana Jawi Matarami’ dari pemerintah Turki Ustmani. Yang kemudian gelar itu dikenal sebagai Sultan Agung Hanyokrokusumo, senopati ing Ngalaga Sayidin Panotogomo. Atau lebih di kenal sebagai SULTAN AGUNG. #onceuponatimeinjava

A post shared by Hanung Bramantyo (@hanungbramantyo) on


Mendapat kritikan demikian dari internal Kraton Yogyakarta langsung, Hanung Bramantyo tidak tinggal diam. Sayangnya, suami Zaskia Mecca itu terkesan tidak menggubris kritikan dari GKR Bendara. Pasalnya, Hanung sibuk memberikan penjelasan sejarah tentang Sultan Agung dalam postingan-postingannya di Instagram, tanpa membahas kritik dari GKR Bendara.

Baca Juga: Warner Bros Dekati Tom Cruise untuk Jadi Green Lantern?

“Raden Mas Rangsang, dinobatkan menjadi Raja Mataram dengan gelar Susuhunan Agung Hanyokrokusumo ketika umur 20th. Dari kecerdasan ABG ini, Mataram mengalami puncak Kejayaannya sebagai Kerajaan yang berani menentang VOC di Batavia,” demikian sepenggal caption panjang Hanung.

(kem)

Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita celebrity lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement