Image

Marcell Siahaan Ungkap Tantangan Terbesar Musisi Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 08 Februari 2018 22:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 08 205 1856872 marcell-siahaan-ungkap-tantangan-terbesar-musisi-indonesia-HgkIDriOLa.jpg Marcell Siahaan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menjadi seorang musisi ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi agar karya musik dapat diterima oleh para pendengar. Apalagi hingga saat ini, karya-karya musisi yang mewarnai industri musik Tanah Air masih mengikuti tren dan permintaan pasar.

Hal ini tentunya menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para musisi yang menekuni genre musik yang bisa dibilang anti-mainstream dan cenderung segmented, sehingga cukup sulit untuk diterima pasar. Seperti yang dilakukan oleh Marcell Siahaan.

 

(Baca Juga: Teaser Trailer Pertama Venom Ungkap Awal Mula Kisah Eddie Brock)

(Baca Juga: Terbukti Berbohong, Mantan Pacar Kim Hyun Joong Didenda Rp62 Juta)

Sejak merintis karier di industri musik Tanah Air, keduanya memang telah berkomitmen menciptakan karya-karya berkualitas sesuai dengan idealisme dan selera mereka masing-masing. Meski tidak melulu menutup mata dengan permintaan pasar, Marcell mengakui saat ini setiap musisi harus melihat industri bukan lagi dari sisi performer tetapi juga dari sisi penikmat.

“Sebelum mengadakan konser atau meluncurkan album, saya selalu mendengar ekspektasi yang diinginkan oleh banyak orang. Contohnya dari rekan-rekan media. Seperti apa ekspektasi yang mereka inginkan dari konser saya? Terkadang saya juga bertanya kepada anak saya, konser seperti apa yang mereka sukai,” tutur Marcell, dalam konferensi pers Konser Akustik Tohpati 2018, di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (8/2/2018).

Marcell tidak memungkiri bahwa “kemasan” juga menjadi salah satu poin terpenting agar karya musik dapat diterima masyarakat luas, khususnya generasi muda. Lebih lanjut ia menjelaskan, sebuah kemasan harus bisa merepresentasikan image sang musisi dengan baik, sehingga dapat menjadi opsi-opsi baru ditengah tren yang sedang berkembang.

“Saat ini pelaku musik memang harus pintar-pintar membangun kemasannya. Bagaimana mengemas sebuah konser atau karya menjadi sebuah image. Saya masih sering main di pensi (pentas seni) loh, padahal umur saya sudah 40 tahun. Kuncinya itu bagaimana kita mengemas karya dengan baik. Misalnya saya selalu berkolaborasi dengan musisi yang lebih muda dan fresh, karena mereka lebih tahu preferensi anak-anak muda sekarang itu seperti apa. Sehingga karya saya pun bisa diapresiasi dengan baik,” jelas Marcell.

Selain kemasan, pelantun tembang Semusim itu mengungkapkan bahwa konsistensi menjadi kunci utama untuk bertahan di industri musik Tanah Air. Bukan tanpa sebab, hal ini sangat penting mengingat karakter dan jati diri merupakan modal utama yang harus dimiliki setiap musisi dan pelaku industri musik lainnya.

“Jangan terlalu memikirkan tren atau pasar, karena nanti ujungnya kita tidak bisa menemukan jati diri. Saya tidak peduli orang bilang karya saya ketinggalan jaman, saya bisa bertahan selama kurang lebih 15 tahun, karena saya konsisten dalam berkarya,” ujarnya.

Marcell juga sempat menyinggung tren musik yang sedang digandrungi generasi muda Indonesia saat ini. Sebetulnya tidak salah menyukai musik yang mengadopsi budaya-budaya luar. Tapi, kita harus mengetahui kalau Indonesia juga memiliki budaya yang sangat unik dan menarik untuk dikesplorasi lebih dalam.

“Kultur hip-hop dan EDM itu bukan kultur kita. Yang kita rasakan itu cuman euphorianya saja. Tapi kita bisa ambil dan menyesuaikannya dengan kultur yang kita miliki. Selain itu, perlu diketahui bahwa saat ini sudah ada UU Nomor 5 tahun 2017 yang mengatur persoalan seni musik. Ini penting supaya karya yang dihasilkan tetap inline dengan budaya kita sendiri. Jadi jangan terlalu kagetlah dengan budaya-budaya barat, justru kita harus bisa bersinergi,” tukasnya.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini