Share

CELEB FACT: Chris Cornell, Menguak Kisah Hidup si 'Voice of Grunge'

Siska Maria Eviline, Jurnalis · Rabu 23 Agustus 2017 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 22 33 1760804 celeb-fact-chris-cornell-menguak-kisah-hidup-si-voice-of-grunge-JYw4fvoN6e.jpg Chris Cornell. (Foto: E! Online)

LOS ANGELES – Ia dikenal sebagai salah satu pendiri aliran grunge yang menolong jutaan pecinta musik untuk menyalurkan kecemasan dan perasaan takut mereka melalui musik. Ia adalah aktor di balik band cadas seperti Soundgarden dan Temple of the Dog.

Baca juga: Tragis! Suami Aktris Song Seon-mi Dibunuh, Diduga karena Warisan

Namanya semakin dikenal publik ketika pada 2001 membentuk Audioslave dan mulai menelurkan sejumlah artis solo. Kematiannya pada 17 Mei 2017, masih meninggalkan secuil tanya di benak penggemar dan industri musik dunia. Inilah kisah Chris Cornell, sang signature voice aliran grunge.

Benarkah Chris Cornell Bunuh Diri?

(Chris Cornell, Foto: Esquire)

Chris Cornell ditemukan tewas pada 17 Mei 2017, tak lama setelah merampungkan konsernya bersama Soundgarden di Detroit, Amerika Serikat. Perwakilannya menyebut, kematian Cornell sebagai sesuatu yang ‘tiba-tiba’ dan ‘tak terduga’.

Beberapa jam setelah kematiannya, Wayne County Medical Examiner menyebut, Cornell tewas akibat gantung diri. Melansir US Weekly, seorang teman menemukan Cornell tergeletak di lantai kamar mandi Hotel MGM Grand Detroit. Di leher Cornell, ditemukan seutas tali yang menjadi penyebab kematiannya.

Pada 19 Mei 2017, ketika Vicky, istri Cornell, merilis pernyataan terkait kematian sang gitaris dia mengungkapkan keraguan atas penyebab kematiannya. Pasalnya, menurut Vicky, mereka berencana untuk berlibur pada Hari Pahlawan yang jatuh pada 28 Mei 2017.

Baca juga:

Ular, Tanda Comeback Taylor Swift di Media Sosial

The Last Jedi dan Star Wars IX Bakal Ungkap Masa Lalu Luke Skywalker

“Setelah konser, kami sempat ngobrol dan dia agak meracau. Saat itu, aku sadar ada yang berbeda dengannya,” ucapnya.

Vicky menjelaskan, saat ia berbicara dengan Cornell melalui telefon, dia meminta tambahan Ativan, obat untuk menekan tingkat kecemasan pasien. “Aku kemudian menghubungi petugas keamanan untuk melihat kondisinya. Apa yang terjadi selanjutnya sulit untuk aku jelaskan. Aku berharap laporan medis lebih lanjut bisa memberikan keterangan lebih mendetail terkait penyebab kematiannya.”

Di akhir pernyataan, Vicky mengklaim, Cornell tidak mungkin menghabisi nyawanya. “Aku tahu bahwa dia sangat mencintai anak-anak kami. Dia tak mungkin menyakiti mereka dengan sengaja mencabut nyawanya seperti itu,” ujarnya.

Cornell memiliki dua anak perempuan dari Vicky, dan satu anak perempuan lainnya dari istri pertama.

Ada Zat Adiktif dalam Tubuhnya Saat Meninggal

(Foto: The Sun)

Sebelum kematiannya, istri Cornell, Vicky, mengatakan, ada sesuatu yang aneh dengan Cornell ketika mereka berbicara melalui telefon. Firasat aneh itu kemudian bermuara pada laporan toksikologi yang dikeluarkan oleh kantor koroner.

Laporan itu menunjukkan, ada kandungan zat adiktif, seperti Naloxone, Butalbital, Lorazepam, Pseudoephedrine, dan barbiturate dalam darah Cornell. Namun, koroner menyanggah semua zat itu sebagai penyebab kematian Cornell. Luka lebam pada lengan Cornell juga disebut pihak koroner sebagai dampak dari penggunaan Narcan, bukan heroin.

“Kematian Chris Cornell adalah penghakiman paling mengerikan yang pernah kami terima. Keluarga kami sangat berduka dan hancur dengan kepergiannya. Kami berterima kasih atas semua perhatian dan berharap bisa membantu sesama agar tragedi serupa tak terjadi kembali,”

Dia Memiliki Suara 4 Oktaf

Tahukah Anda bahwa kemampuan vokal Chris Cornell mencapai 4 oktaf? Hal itu sangat membantu performanya ketika tampil bersama Soundgarden dan Audioslave. Dia bisa bernyanyi dengan teknik falsetto yang sangat mengesankan, pun mengeluarkan jeritan serak.

Terkait kemampuan vokal Cornell itu, New York Times menuliskan, “Chris Cornell bernyanyi seperti tengah memanggul berat dunia ini. Dengan suara bariton mencapai 4 oktaf, Mr. Cornell memiliki napas yang sangat panjang dan kuat. Ketika harus mengeluarkan nada tinggi, dia akan mengerang dengan sangat kuat.” 

Dia Mengagumi Jeff Buckley

Ada dua legendaris musik era ’90-an yang menjadi sahabat Cornell: Kurt Cobain dan Jeff Buckley. Kedua penyanyi itu juga tewas secara tragis pada 1994 dan 1997. Irish Independent menyebut, Buckley sudah seperti saudara bagi Cornell dan berpengaruh besar dalam album solo perdananya, ‘Euphoria Morning’.

SPIN bahkan menyebut, Wave Goodbye yang merupakan salah satu lagu dalam album Chris tersebut, ditulis oleh Buckley. Menurut Chris, Buckley adalah seseorang yang memiliki banyak pemikiran tentang hidup. Dia suka menjejali hal baru, dan dalam waktu singkat sukses berkolaborasi dengan sejumlah bintang rock ternama.

“Orang-orang berkomentar tentang konsernya seperti mereka berbicara tentang Jim Hendrix: mereka duduk di sana, dengan mata terbuka, dan membahas dia. Buckley benar-benar memiliki aura (bintang),” katanya.

Chris menambahkan, “Aku tak bisa mendeskripsikan apa yang sebenarnya dia punya. Dia bisa membuat orang lain tertarik padanya. Bagiku, dia memiliki banyak hal dibandingkan orang lain.”

Perseteruan dengan Mantan Istri

(Chris Cornell dan Susan Silver. Foto: FeelNumb)

Chris Cornell berpisah dari istri pertamanya, Susan Silver, pada 2004. Beberapa tahun kemudian, dia mengajukan tuntutan sebesar USD1 juta kepada sang mantan istri. Melansir SPIN, Chris menuding, Susan telah menggelapkan royaltinya dan mengambil trofi Grammy, sejumlah rekaman, gitar, dan jurnal miliknya.

Susan menyebut, tuduhan Cornell tersebut ‘absurd’ dan ‘tak beralasan’. Dia mengaku, tak memiliki waktu untuk bermain-main atau menahan harta mantan suaminya itu. “Apa yang dituduhkan Cornell menghancurkan reputasi saya. Tuntutan Cornell itu membuktikan satu hal, bahwa dia hanya harus tetap bernyanyi,” katanya.

Baca juga: Keren! Mike Lewis Ingin Sajikan Masakan Spesial buat "Istri Baru"

Selain tuntutan itu, Cornell juga sempat mengajukan perintah penahanan untuk seorang lelaki yang diklaimnya disewa oleh Silver untuk membuntuti dirinya. Sekitar 4 tahun kemudian, melalui situs pribadinya, Cornel menuliskan, bahwa dia mendapatkan kembali sekitar 15 unit gitar yang dituding diambil sang mantan istri. “Setelah melalui tuntutan hukum yang sangat panjang, semua gitar-gitar itu kembali ke tempat semestinya,” tulisnya.

Namun semua tuduhan Cornell itu membuat Silver sedih. “Ini sangat menyakitkan, tak penting, dan harus dibayar dengan harga mahal ketika seseorang menyalahgunakan sistem hukum untuk menyakiti orang lain,” ucapnya.

Pindah ke Paris


(Chris Cornell dan Vicky Karayiannis. Foto: IST)

Cornell memutuskan pindah ke Paris pada awal tahun 2000-an, setelah bertemu Vicky Karayiannis, publisis Perancis yang pernah membantu tur perdana Audioslave. “Aku kerap menyambangi Paris setiap kali aku punya waktu kosong,” katanya kepada SPIN.

“Sebelum (bertemu Vicky), aku memang berencana tinggal di Paris selama 10 tahun. Jadi, semuanya memang kebetulan. Ini pengalaman luar biasa keluar dari lingkungan normalku, karena kehidupan di Paris jauh lebih santai.”

Di Paris, Cornell, Vicky, dan saudara iparnya membuka sebuah restoran yang dinamai The Black Calavados.

Dia Memiliki Kepedulian Besar terhadap Sesama

Kesuksesan memungkinkan Chris Cornell untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Pada 2012, dia dan sang istri mendirikan Chris and Vicky Cornell Foundation. Yayasan itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan menggerakkan dukungan untuk anak-anak tunawisma dan yang terkena pelecehan.

Cornell juga merekam sejumlah lagu yang pendapatannya ditujukan untuk orang-orang yang membutuhkan. Penjualan lagu The Promise yang merupakan theme song film berjudul serupa akan disalurkan kepada International Rescue Committee.

Kepada Rolling Stone, Cornell menjelaskan, film The Promise merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menuturkan kisah Kekaisaran Ottoman dan peristiwa Genosida Armenia. Film tersebut, menurut dia, membantu publik untuk sembuh dari sesuatu yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu.

“Namun ini juga mengingatkan kita bahwa hal-hal yang terjadi pada era itu juga terjadi saat ini. Lihat Syria. Di sana ada rezim yang mencoba menyangkal setiap pembantaian yang terjadi. Jangan lupakan ISIS, yang membidik kelompok-kelompok tertentu dan mengiklankannya.”

Pada 2011, Loudwire memberitakan, Cornell pernah merekam lagu untuk film Machine Gun Preacher yang hasil penjualannya digunakan untuk menggalang dana bagi Angels of East Africa.

Dia Berteman Dekat dengan Chester Bennington

(Chris Cornel (kiri) dan Chester Bennington (kanan) dalam sebuah pertunjukan bersama. Foto: Alternativenation)

Ketika kabar kematian Cornell mencuat, vokalis Linkin Park, Chester Bennington, membagikan sebuah catatan pribadi tentangnya melalui Twitter. “Aku sangat berduka sekaligus beruntung bisa berbagi saat-saat sangat spesial denganmu dan keluargamu.” 

Bennington menambahkan, “Kau menginspirasiku dalam banyak hal. Bakatmu sangat murni dan tak ada tandingannya. Suaramu adalah sukacita dan kepahitan, kemarahan dan pengampunan, cinta dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.”

Aku berharap kau mengucapkan selamat tinggal dengan caramu. Aku tak bisa membayangkan dunia tanpamu. Aku berdoa kau akan menemukan kedamaian dalam hidupmu selanjutnya.”

Bennington menyanyikan Hallelujah pada pemakaman Cornell. Tak satupun orang yang menyadari, kepergian Cornell meninggalkan duka yang sangat dalam bagi Bennington. Pada 20 Juli 2017, bertepatan dengan ulang tahun ke-53 Cornell, Bennington memutuskan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Dia ditemukan tewas di rumahnya, ketika istri dan anak-anaknya sedang pergi.

Lagu untuk Cornell dari Sang Putri dan Bennington

(Penampilan Toni Cornell dan mendiang Chester Bennington dalam 'Good Morning America'. Foto: Metro)

Pada 4 Agustus 2017, Toni Cornell, putri Cornell yang masih berusia 12 tahun memberikan penghormatan kepada ayahnya dalam acara Good Morning America. Bersama OneRepublic, dia menyanyikan Hallelujah bersama Bennington, lagu serupa yang dinyanyikan vokalis Linkin Park itu di pemakaman Cornell.

Melansir Rolling Stone, penampilan itu sukses membuat penonton terharu. Sebagian penonton, merupakan penggemar Linkin Park yang hari itu harusnya tampil di Central Park. “Ini merupakan sebuah kehormatan bagiku bisa menyanyikan lagu ini bersama Chester untuk ayahku,” kata Toni.

1
10

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini