Perceraian Orangtua dan Perkenalan dengan Narkoba
Tak hanya pelecehan seksual, Bennington juga harus berhadapan dengan perpisahan kedua orangtuanya pada usia 11 tahun. Di bawah pengasuhan sang ayah yang berprofesi sebagai polisi, dia dipaksa hidup mandiri.
“Bagiku, itu masa-masa terburuk dalam hidupku. Aku benci semua anggota kelaurgaku. Aku merasa dicampakkan oleh ayah dan ibuku di usia yang masih sangat muda,” katanya.
Pelecehan seksual dan perceraian orangtua, diakui Bennington, menyeretnya dalam rasa depresi yang tak berkesudahan. Melukis dan menulis puisi sempat menjadi pelariannya dari rasa depresi.
Namun, menurut dia, rasa percaya dirinya kembali tumbuh saat pertama kali membentuk band Gray Daze, pada 1993. “Persoalannya, ketika saya menemukan cinta pada musik, saya malah terjebak dalam candu baru: alkohol dan seks,” katanya.
Dari alkohol, Bennington yang kala itu masih berusia 17 tahun mulai berkenalan dengan kokain, ekstasi, dan Lysergic Acid Diethalamide (LSD). “Anda tahu? Saya bisa menyuntikkan 11 kali LSD dalam sehari, tapi masih bisa berbicara layaknya orang normal,” katanya.
Kepada The Guardian, dia mengatakan, “Saya ingat, pernah menggunakan obat-obatan di atas panggung. Kalau saya mengingat masa-masa itu saya akan menangis. Oh Tuhan, kenapa hal itu harus terjadi pada saya?”