Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

CELEB FACT: Enam Fakta Tersembunyi Chester Bennington Sebelum Tewas Bunuh Diri

Siska Maria Eviline , Jurnalis-Senin, 24 Juli 2017 |06:00 WIB
CELEB FACT: Enam Fakta Tersembunyi Chester Bennington Sebelum Tewas Bunuh Diri
Chester Bennington. (Foto: NBC News)
A
A
A

LOS ANGELES – Chester Bennington menuai popularitas bersama grupnya Linkin Park, pada tahun 2000. Kala itu, mereka merilis album ‘Hybrid Theory’ yang sukses melambungkan One Step Closer dan Crawling ke sejumlah puncak tangga lagu dunia.

Meskipun Bennington berusaha jujur dengan apa yang dirasakannya melalui musik, namun depresi tampaknya jauh lebih digdaya. Lelaki 41 tahun itu akhirnya menyerah dan mengakhiri hidupnya pada 20 Juli 2017. Hari yang sama Linkin Park merilis video klip terbarunya, Talking to Myself.

Berikut Okezone menyajikan enam rahasia tersembunyi Bennington yang disinyalir menjadi sumber depresinya selama ini.

Pelecehan Seksual di Usia Belia

Lirik-lirik penuh makna yang dicipta Bennington tak datang dengan sendirinya. Dalam sebuah wawancara dengan Kerrang pada tahun 2008, untuk pertama kali Bennington mengakui pernah mengalami pelecehan seksual pada usia 7 tahun. Pelakunya, menurut dia, adalah seorang teman yang lebih tua darinya.

“Berawal dari sentuhan penasaran, dia kemudian memukuli dan memaksaku untuk melakukan hal-hal yang tak ingin ku lakukan. Kejadian itu membuat rasa percaya diriku hancur. Aku diam dan menyimpan masalah itu selama enam tahun,” katanya.

Bennington mengaku, takut untuk bercerita kepada orang lain terkait peristiwa itu. “Aku tak mau orang menilaiku sebagai homoseksual atau berbohong tentang kejadian itu. Jujur, itu pengalaman yang sangat mengerikan.”

Namun ketika dia mengetahui, sang pelaku juga merupakan korban pelecehan seksual, Bennington tak merasa perlu untuk memperkarakannya. Kepada The Guardian, dia berkata, “Aku tak perlu membalas dendam.”

Perceraian Orangtua dan Perkenalan dengan Narkoba

Tak hanya pelecehan seksual, Bennington juga harus berhadapan dengan perpisahan kedua orangtuanya pada usia 11 tahun. Di bawah pengasuhan sang ayah yang berprofesi sebagai polisi, dia dipaksa hidup mandiri.

“Bagiku, itu masa-masa terburuk dalam hidupku. Aku benci semua anggota kelaurgaku. Aku merasa dicampakkan oleh ayah dan ibuku di usia yang masih sangat muda,” katanya.

Pelecehan seksual dan perceraian orangtua, diakui Bennington, menyeretnya dalam rasa depresi yang tak berkesudahan. Melukis dan menulis puisi sempat menjadi pelariannya dari rasa depresi.

Namun, menurut dia, rasa percaya dirinya kembali tumbuh saat pertama kali membentuk band Gray Daze, pada 1993. “Persoalannya, ketika saya menemukan cinta pada musik, saya malah terjebak dalam candu baru: alkohol dan seks,” katanya.  

Dari alkohol, Bennington yang kala itu masih berusia 17 tahun mulai berkenalan dengan kokain, ekstasi, dan Lysergic Acid Diethalamide (LSD). “Anda tahu? Saya bisa menyuntikkan 11 kali LSD dalam sehari, tapi masih bisa berbicara layaknya orang normal,” katanya.

Kepada The Guardian, dia mengatakan, “Saya ingat, pernah menggunakan obat-obatan di atas panggung. Kalau saya mengingat masa-masa itu saya akan menangis. Oh Tuhan, kenapa hal itu harus terjadi pada saya?”

Mobil adalah Rumahnya

Sebelum Linkin Park sukses, band yang sebelumnya bernama Xero itu, pernah ditolak oleh sejumlah label rekaman besar. Warner Bros bahkan sempat menolak band ini tiga kali, sebelum akhirnya menandatangi kontrak kerja sama pada 1999. Pada masa itu, Bennington adalah seorang tuna wisma dan tinggal di dalam mobilnya.

Kepada Rolling Stone, ayah enam anak tersebut mengatakan, “Mobil itu bahkan tak bisa berlari di atas kecepatan 50 kilometer per jam. Dua lampunya pernah terbakar, dan aku tak punya uang untuk menggantinya.”

Terkait hal itu, gitaris Linkin Park, Brad Delson, mengatakan, Bennington memiliki masa lalu yang unik. “Banyak hal yang telah dilaluinya dan dia sangat termotivasi dengan hal itu. Jadi, suatu hari dia mengatakan, bahwa kami belum bekerja cukup keras,” kata Delson.

'Perintah' untuk Memecat Mike Shinoda

Ketika Linkin Park merekam ‘Hybrid Theory’, Bennington dan rekannya Mike Shinoda berkolaborasi menciptakan musik dengan lirik mumpuni. Namun, setelah band itu terkenal, Warner Bros meminta sejumlah perubahan di dalamnya. Bennington kemudian diberi pilihan: memastikan Shinoda tak lebih dari sekadar pemain keyboard atau memecatnya.

“Saya bilang kepada mereka ‘Kalian serius?’ Saya baru bergabung dengan band itu dan kalian memintaku untuk menyingkirkan pencipta lagu dalam band itu? Linkin Park adalah band bentukan Shinoda. Jika dia bisa bernyanyi, bisa kupastikan saya tak akan memiliki pekerjaan,” katanya kepada Kerrang.

Popularitas yang Terlalu Dini

Meski cukup dekat dengan Shinoda selama proses pembuatan lagu dalam album perdana mereka, Bennington tetap merasa asing dengan personel Linkin Park lainnya. Dia kembali frustasi dengan kondisi yang dihadapinya dan melampiaskannya kepada sang mantan istri.

Kepada The Guardian, Bennington mengatakan, dia dan mantan istrinya, Samantha, terlalu muda untuk menikah. “Kami racun satu sama lain. Kepribadian kami sama-sama belum stabil dan akhirnya kami sampai pada titik yang sama: kami tak cocok satu sama lain,” katanya.

Menjalani tur dengan akses yang sangat mudah dengan obat-obatan membuat kondisi mental Bennington semakin rapuh. Rekannya di Linkin Park terpaksa turun tangan. “Saat itu, aku tak pernah tahu kalau saya adalah mimpi buruk bagi Linkin Park. Aku bermasalah dengan alkohol serta obat-obatan, dan tak menyadari seberapa besar itu memengaruhi orang-orang di sekitarku,” ujarnya seperti diberitakan Team Rock.

“Lalu mereka (personel Linkin Park) masuk dan membeberkan apa yang sudah aku lakukan. Aku sangat terkejut. Mereka bilang, seperti ada dua orang dalam diriku: Chester Bennington dan lainnya si brengsek. Aku tak mau menjadi orang brengsek itu,” katanya.

Itu menjadi titik balik dalam kehidupan Bennington. Dia memilih menceraikan istrinya dan memperbaiki hubungan dengan personel Linkin Park lainnya.

Duka Dalam Bennington untuk Chris Cornell

Pada 18 Mei 2017, vokalis Audioslave, Chris Cornell, ditemukan gantung diri di kamar hotelnya di Detroit. Seperti Bennington, Cornell juga mengalami depresi dan kecanduan obat-obatan terlarang selama bertahun-tahun. Keduanya diketahui berteman dekat setelah Linkin Park dan Audioslave melakukan tur bersama pada akhir tahun 2000.

Pada hari kematian Cornell, Bennington mengunggah sebuah tulisan untuk temannya itu di Twitter. “Aku masih menangis dalam kesedihan, sekaligus bersyukur atas setiap momen indah yang kulalui bersamamu dan keluargamu. Kau telah menginspirasiku dalam banyak hal dan kau pasti tak mengetahui hal itu,” katanya.

Dia menambahkan, “Bakatmu murni dan tak tertandingi. Suaramu adalah sukacita sekaligus duka, amarah dan pengampunan, cinta dan sakit hati, kau mengemasnya menjadi satu. Kau membantuku untuk memahami semua itu.”

Kala itu, tak satupun orang yang menyadari betapa dalamnya kata-kata perpisahan yang diucapkan Bennington untuk Cornell. “Aku tak bisa membayangkan dunia tanpamu. Aku berdoa kau akan menemukan kedamaian dalam kehidupan selanjutnya.” Bennington dan gitaris Linkin Park, Brad Delson, menampilkan lagu Hallelujah milik Leonard Cohen pada pemakaman Cornell.

(SIS)

Celebrity Okezone menghadirkan berita terbaru, eksklusif, dan terpercaya seputar artis dalam dan luar negeri

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita celebrity lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement