Image

Hari Puisi Sedunia, Mengenang Sosok Penyair Fenomenal Chairil Anwar

Revi C. Rantung, Jurnalis · Selasa 21 Maret 2017, 16:43 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 03 21 33 1648353 hari-puisi-sedunia-mengenang-sosok-penyair-fenomenal-chairil-anwar-zlkKxmeELk.jpg Ilustrasi. Dok Okezone

JAKARTA - Bertepatan dengan Hari Puisi Sedunia atau World Poetry Day yang jatuh pada 21 Maret, Indonesia diingatkan dengan sosok penyair handal Chairil Anwar. Dia adalah salah satu legenda puisi asal Indonesia.

Lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922, Chairil Anwar dijuluki "Si Binatang Jalang". Pria asal Medan tersebut, telah banyak menciptakan puisi. Tercatat ada 70 puisi yang sudah dibuatnya. Chairil dibesarkan di Medan, lalu pindah bersama ibunya pada 1940 ke Jakarta. Pada tahun itu pun, Chairil mulai menggeluti dunia sastra.

Puisi-puisi yang ditulis sangat fenomenal karena berkaitan dengan pemberontakan, individualisme bahkan kematian. Tak ayal, membuat puisinya menjadi multi-interpretasi. Nama Chairil Anwar mulai dikenal saat ia menginjak usia 20 tahun, kiprahnya didunia sastra pun dimulai saat itu.

Ia juga sempat menjadi seorang penyiar radio Jepang di Jakarta, disitu ia menyukai seorang wanita yang bernama Sri Ayati, namun sampai ajal menjemputnya, Chairil tidak sempat untuk menyatakan cintanya. Chairil Anwar juga menderita berbagai penyakit. Penyair itupun meninggal diusia muda, tepat pada 28 April 1949. Menurut dugaan ia mengidap penyakit TBC.

Puisi 'Aku' adalah salah satu puisi ciptaan Chairil Anwar yang fenomenal. Awal pembacaan puisi Aku dibacakan di Pusat Kebudayaan Jakarta pada bulan Juli 1943. Dalam puisinya tersebut bertemakan pemberontakkan dari segala bentuk penindasan. Berikut isi puisi 'Aku' karya Chairil Anwar.

Aku

Kalau sampai waktuku

'Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini