Image

Penari Eko Supriyanto Raih Penghargaan di Bidang Seni Peran

Agregasi Rabu 11 Januari 2017, 15:18 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 01 11 206 1588820 penari-eko-supriyanto-raih-penghargaan-di-bidang-seni-peran-V1o5XTklsj.jpg Eko Supriyanto (Foto: Solopos)

JAKARTA — Mantan penari latar Madonna, Eko Spuriyanto mendapatkan penghargaan. Bukan tari, melainkan penghargaan dari seni peran. Penari berusia 43 tahun itu mendapatkan penghargaan sebagai Aktor Pendukung Terbaik.

Dilansir Solopos.com, aktingnya sebagai seorang penari dalam film bergenre drama misteri, Sunya, mendapat penghargaan dari Tempo Majalah sebagai Best Supporting Actor 2016. Pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini mengungguli aktor lain seperti Erlando Saputra, Satria Qolbun Salim, Sri Purwani, dan Soetomo Adi.

Selain Best Supporting Actor untuk Eko Pece, film tentang mitos Jawa garapan Hari Suhariyadi meraih beberapa penghargaan bergengsi seperti Best Original Movie Concept Piala Maya 2016, dan One Of The Best Movie Of The Year dari Movefreak.

Film tersebut juga diputar di beberapa festival film Hollywood. Sebelumnya film Sunya sempat diputar di layar lebar pada 6 Oktober 2016. “Film ini melebihi ekspektasi saya,” kata Eko saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Eko mengatakan empat tahun terakhir setelah produksi sempat dibuat deg-degan dengan Sunya. Namun ketika melihat film secara utuh pada penayangan perdana Oktober 2016 di Jakarta, ia terkejut dan merasa puas. Menurut dia, secara keseluruhan garapan abstrak non-naratif tersebut menurutnya memberikan ruang yang luas terhadap kejawen dan budaya Jawa.

Lebih lanjut, Eko menegaskan keberhasilannya sebagai Best Supporting Actor versi Tempo tak lepas dari totalitas sang sutradara juga seluruh kru dan pemain film.

Ini bukan kali pertama Eko terlibat dalam dunia seni peran. Sebelumnya, peraih Cultural Award di Jerman ini juga pernah menjadi pemain pendukung dalam opera Jawa di Kisah Tiga Titik dan Negeri Tanpa Telinga. Hingga saat ini sejumlah sutradara meminangnya untuk mendukung film bergenre serupa namun tawaran tersebut masih ia pertimbangkan.

Suami dari Astri Kusumawardhani ini sibuk dengan beberapa jadwal tur karyanya berjudul Cry Jailolo, Balabala, dan karya tunggal SALT hingga 2018.

Sementara itu, sang sutradara Hari Suhariyadi tersanjung atas apresiasi yang mereka terima. Terhitung baru tiga bulan sejak pemutaran di bioskop, film ini sudah menerima beberapa penghargaan.

Film yang juga melibatkan sejumlah dua seniman Solo dan beberapa penulis ternama seperti Eka Kurniawan ini akan diputar secara berkala di berbagai komunitas hingga Maret mendatang.

Digarap Rumah Produksi Film Sinema jiwa, proses produksi Sunya menghabiskan waktu hampir lima tahun sejak 2011. Pengambilan gambar dilakukan di Desa Ndilem, Kepanjen, Malang, dan Magelang. Sunya yang sarat dengan mitos Jawa ini menceritakan kisah seorang anak dari perdesaan bernama Bejo.

Semenjak kematian sang ibu, ia sering mengalami kejadian aneh dan misterius. Hal itu terjadi hingga ia dewasa dan menikah. Suatu saat nenek Bejo mengalami penyakit aneh yang hanya bisa disembuhkan dengan proses kejawen. Berdasarkan video trailer, film ini menggunakan setting perdesaan dan memasukkan beberapa kesenian Jawa.

(aln)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini