JAKARTA - Andovi da Lopez mengungkapkan dirinya sempat mendapat serangan di media sosial menjelang perilisan film Bapak Paling Jujur. Film tersebut bahkan mendapat seruan boikot dari sejumlah pihak karena dituding sebagai film yang mendukung mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Hal itu diceritakan Andovi saat menghadiri sesi wawancara bersama Anies. Ia mengaku sempat membaca komentar di Instagram yang menyerukan boikot terhadap film tersebut.
“Diserang! ‘Boikot film pendukung Anies!’ Dan mereka salah ngeja lagi nulisnya. Ditulis ‘Bokiot’. ‘Bokiot film penudukung Anies!’” ujar Andovi sambil tertawa.
Meski demikian, Andovi menegaskan bahwa anggapan film tersebut dibuat untuk mendukung tokoh politik tertentu tidaklah tepat. Ia menjelaskan, Bapak Paling Jujur mengangkat persoalan kejujuran dengan menyelipkan berbagai referensi peristiwa politik yang pernah terjadi, baik di tingkat nasional, daerah, maupun Jakarta.
Menurut Andovi, berbagai peristiwa tersebut dihadirkan sebagai bagian dari cerita, bukan untuk mengarahkan penonton agar mendukung pihak tertentu.
“Padahal saya udah ngomong, ini film, you can ask him yourself, you can ask the media, ini film tidak mendukung siapa-siapa. Pada intinya ngomongin soal kejujuran,” tegasnya.
Andovi juga mengaku sempat deg-degan saat mengetahui Anies menonton film tersebut. Pasalnya, Anies dinilai memahami berbagai referensi dan easter egg yang disisipkan dalam cerita. Bahkan, menurut Andovi, Anies beberapa kali sudah bisa menebak maksud adegan sebelum karakter yang diperankan Andovi menyampaikan dialognya.
Anies Baswedan Sebut Film Bapak Paling Jujur Menyentil Persoalan Pemilu
Sementara itu, Anies memberikan respons positif setelah menonton film tersebut. Ia menilai Bapak Paling Jujur tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari maupun politik.
Ketika ditanya mengenai bagian yang paling menyentil dirinya, Anies menunjuk adegan menjelang akhir film yang menyinggung hasil pemilu dan kepercayaan publik.
“Paling nyentil di akhir sih. Ketika bicara tentang hasil pemilu. Saat dibilang bahwa, apa... ‘yang percaya kurang banyak’. Tapi terus bilang, ‘yang penting jujur’,” ungkap Anies.
Menurutnya, kejujuran dalam politik tidak cukup hanya disampaikan sebagai janji selama kampanye. Calon pemimpin dan timnya juga harus mampu mempertanggungjawabkan proses yang telah dijalani, termasuk setelah pemilihan selesai.
“Ketika selesai proses kampanye, selesai proses pemilihan, calon dan timnya tidak malu menceritakan semua proses. Dan itu artinya dikerjakan dengan benar. Itu yang paling nyentil saya,” jelasnya.
Meski memuat berbagai referensi politik, Anies menilai film tersebut tetap berhasil menjalankan fungsinya sebagai hiburan. Ia mengapresiasi kreativitas tim produksi dalam merangkai cerita dan mengajak masyarakat menonton film tersebut.
“Dari awal sampai akhir, I enjoy the movie. This is fun, this is funny, it's entertaining,” ujar Anies.
(kha)