JAKARTA - Percakapan itu dimulai tanpa tanda bahaya. Hanya cerita tentang hubungan baru yang terasa terlalu mulus, terlalu baik, dan terlalu mencurigakan. Nada bicara terdengar santai, diselingi tawa kecil, seolah semua ini cuma obrolan iseng di waktu luang. Tapi justru dari ketenangan itu, cerita mulai bergerak ke arah yang tidak masuk akal.
Satu kalimat sederhana mengubah segalanya. Pengakuan tentang masa lalu yang tiba-tiba muncul membuat suasana langsung bergeser. Ayah dari pacar barunya disebut-sebut sebagai sosok yang pernah mengisi hidupnya di masa lalu. Reaksi lawan bicara langsung pecah, antara kaget, heran, dan tidak percaya. Tawa muncul, tapi kali ini bercampur rasa bingung yang nyata.
Cerita lalu berputar semakin liar. Detail-detail absurd ditaburkan dengan mulus, dari kebiasaan aneh, ketertarikan pada sosok yang lebih tua, sampai kisah komunikasi yang seolah masih terjalin. Semua disampaikan dengan tempo cepat dan gaya bicara penuh improvisasi, membuat siapa pun sulit menentukan mana yang bercanda dan mana yang serius.
Di tengah kekacauan itu, muncul momen reflektif. Nasihat dilontarkan, perumpamaan tentang pohon tua dan bibit baru diselipkan, seolah percakapan ini bukan sekadar lelucon. Prank ini tidak hanya mengandalkan kejutan, tapi juga memainkan emosi, memancing empati, dan membuat lawan bicara ikut memikirkan skenario terburuk yang mungkin terjadi.
Pada akhirnya, cerita dibiarkan menggantung tanpa kepastian. Tidak ada jawaban benar atau salah, hanya tawa yang menutup kebingungan panjang. Seperti ciri khas HALO, DEK!, prank ini berhasil mengubah curhat sederhana menjadi pengalaman yang membuat orang bertanya-tanya, tertawa, dan sekaligus menghela napas panjang karena terlalu absurd untuk dicerna dengan logika biasa.
Saksikan keseruannya hanya di @aziarizza.
(kha)