Temi memberikan contoh personal branding offline, yaitu menjadi tetangga yang baik atau suka menolong. Maka saat akan melakukan personal branding secara online (konten), orang-orang akan tertarik karena di kesehariannya juga terlihat baik.
"Biasanya personal branding itu ada offline ada online. Tetangga yang baik, tetangga yang suka menolong itu personal branding," katanya
BACA JUGA: Apa Pentingnya Personal Branding bagi Seorang Konten Kreator?
Lebih lanjut, Temi mengimbau kepada para konten kreator untuk melakukan personal branding yang positif dan memiliki value, dan jangan hanya mencari sensasi semata saja.
"Kalau bisa personal branding itu yang positif, punya value. Jangan di-create sedemikian rupa hanya untuk mencari sensasi. Kenapa? Karena biasanya yat seperti itu tidak akan langgeng," terangnya.
(dwk)