Keberhasilan Pram rupanya membuat sekitar 26 sastrawan dan budayawan protes dengan penghargaan tersebut. Bahkan, Yayasan Ramon Magsaysay dianggap mengabaikan dosa politik Pram, dimana ia tergabung dalam Lekra, organisasi yang berada di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Protes pada penganugerahan Magsaysay sendiri diketahui dipimpin oleh Taufiq Ismail dan Muchtar Lubis. Sejumlah sastrawan dan budayawan yang dikabarkan ikut dalam penandatanganan protestersebut antara lain HB Jassin, Ali Hasjmi, Wiratmo Soekito, Asrul Sani, Bokor Hutasuhut, DS Moeljanto, WS Rendra, Leon Agusta, Misbach Jusa Biran, Amak Baljun, Chairul Umam, Mochtar Pabotinggi, Abdul Rahman Saleh, Lukman Ali, Danarto, Rahmat Djoko Pradopo, Ikranegara, Slamet Sukrinanto, Syu'bah Asa, hingga SM Ardan.
Baca Juga: Anak Sering Rewel Jelang Maghrib, Sarwendah Panggil Ustadz ke Rumah
Atas perlakuan yang didapatnya, Pram sempat merasa tak dihormati dan dihargai di negara sendiri. Bahkan ia sempat mengatakan, "Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia."
(LID)