"Saya disuruh sabar. Saya pernah ada suatu ketika, curhat masalah suami. Papiku bilang, 'Jangan ya nak, papi doain yang doain langgeng sampai akhir hayat, suamimu orang baik, suamimu orang beriman'," paparnya.
"Dia mengajarkan orang enggak perlu tahu yang penting sudah bersyukur yang Allah berikan. Tidak untuk dipamerkan, tidak untuk disombongkan. Itu masih saya ingat sampai sekarang," tambahnya.
Sayangnya, ada satu hal yang belum sempat dipenuhi okeh Uut sampai akhirnya sang ayah menghembuskan napas terakhir pada Sabtu, 30 Maret 2019. Yakni saat ayahnya meminta untuk dibelikan sepatu bulu tangkis (badminton).
"Kemarin waktu saya ke sini, dia minta sepatu badminton kan. Biasanya enggak pernah minta. Aku bilang 'Iya pi, kita cari', kita cari di mal Surabaya," tukas Uut Permatasari.
(aln)