"Kita berharap dengan mereka ngeband, dengan ekstrakulikuler yang diikutikan mereka enggak bisa sendiri, harus berkolaborasi sama teman-temannya yang lain. Dan untuk mencapai kesuksesan, itu adalah hasil dari kerjasamanya mereka dengan teman-temannya. Bukan dari hasil sendiri," sambungnya.
Menurut Budi Sulistioyuwono alias Boim, ada beberapa hal yang menjadi catatan dan nilai tambah bagi para peserta untuk tampil pada final Pucuk Cool Jam 2019 ini. Yakni tampil dengan percaya diri dan tak hanya bisa berkolaborasi bersama teman seband atau tim ekstrakulikuler, tetapi juga dapat berkolaborasi dengan penonton.
"Dari performance mereka itu, bagus banget itu enggak cukup sebenarnya. Tapi bagaimana mereka bisa menghibur penonton, karena judulnya saja akan bergabung dengan industri entertaiment, pasti ya harus menghibur. Sejauh mana mereka bisa berkolaborasi," tutur Boim.
Hampir sama dengan Boim, Adri Nidji juga mengungkap bahwa para peserta diharapkan dapat berkolaborasi dan bisa tampil tanpa menjiplak gaya musisi lain. Menurutnya, para juri akan lebih menghargai hasil karya sendiri, dibandingkan meniru untuk bisa mencapai kesuksesan dengan cara instan.
"Benar tadi yang disampaikan Boim. Jadi kolaborasi ini melatih mereka untuk ke industri sebenarnya. Industi musik bisa macan-macam. Mereka bisa kolaborasi sama fotografer, produser, songwriter, dan itu bisa melatih mereka untuk bisa berkolsborasi. Saat dia bisa berkolaborasi, artinya dia bisa untuk menjadi seorang entertainer, musisi, yang kualitasnya luar biasa," ungkap Adri.