JAKARTA - Ajang penghargaan perfilman Tanah Air, Festival Film Indonesia (FFI) 2011 telah dihelat. Namun, ada yang berbeda dari ajang tahunan ini. Tidak sebatas pada penerapan sistem penjurian baru, melainkan juga pergantian “rezim” atau representasi juri.
“Sistem yang lebih baik memang penting, tapi membicarakan FFI sebagai ajang evaluasi kreativitas dan estetika film Indonesia satu tahun terakhir, di mana hasilnya dianggap sebagai benchmark kreativitas, dan estetika film kita pada masanya. Representasi juri juga sama pentingnya. Pertanyaannya kan, ini benchmark-nya siapa?,” kata Totot Indrarto, Ketua Bidang Penjurian Film Bioskop FFI 2011, saat jumpa pers di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Minggu (28/11/2011).
Totot menambahkan, panpel FFI 2011, melihat motor penggerak utama industri kreativitas, dan estetika perfilman Indonesia saat ini telah didominasi oleh pekerja dan penggiat film generasi baru pasca (film) 'Kuldesak' (1997).
“Sudah saatnya kita serahkan evaluasi dan penentuan benchmark itu kepada mereka. Karena itu, dalam FFI 2011 penjurian kami percayakan kepada generasi baru tersebut, baik di tingkat seleksi oleh Komite Nominasi, dan terutama penentuan pemenang oleh Dewan Juri,” imbuhnya.
(nsa)