JAKARTA - Legenda Putri Mandalika telah lama hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sasak sebagai kisah pengorbanan demi mencegah peperangan. Melalui film pendek “Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani”, kisah tersebut dihadirkan kembali dengan nilai yang lebih kontekstual–bahwa sosok ini adalah simbol kebijaksanaan dan pengetahuan yang melahirkan tradisi Bau Nyale.
Film ini akan ditayangkan dalam acara Culture Night of Mandalika “Bau Nyale Short Movie Screening” pada 6 Februari 2026 di Pantai Kuta Mandalika sebagai bagian dari rangkaian Festival Bau Nyale.
Guru Besar Unram, Prof. Dr. H. Nuriadi, S.S., M.Hum., mengatakan, “Karya sinematik memiliki power sebagai medium pengetahuan, karena di dalamnya merangkum gagasan dalam narasi visual, lebih mudah dipahami, lebih mudah dianalisis. Tentu film pendek 'Mandalika' ini menjadi dokumentasi budaya untuk ruang refleksi terkait tradisi autentik asal Suku Sasak," (Senin, 02/02/26).
Masyarakat Suku Sasak mengisahkan Putri Mandalika bak titik temu antara legenda dan nilai hidup. Mandalika digambarkan sebagai sosok pemimpin yang dihadapkan pada konflik besar: perebutan kekuasaan yang mengancam kedamaian rakyatnya.
Bau Nyale kemudian tumbuh sebagai tradisi yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut, diwariskan lintas generasi dan menjadi salah satu ritual budaya paling penting di Lombok hingga kini.