Mens Rea memiliki arti yang mendalam. Nama itu diambil dari konsep hukum pidana yang berarti 'pikiran yang bersalah' (guilty mind), merujuk pada niat jahat, kesadaran, atau sikap batin pelaku saat melakukan tindak pidana.
Tanpa mens rea, perbuatan (actus reus) seringkali tidak bisa dipidana. Ini mencakup tingkat kesadaran dari kesengajaan terencana (planned), kesadaran (knowing), hingga kelalaian (negligence).
Melalui pertunjukannya, Pandji Pragiwaksono menjadikan Mens Rea sebagai 'alat' untuk membongkar niat jahat elite politik. Kontennya lekat dengan isu dinasti politik, matinya oposisi, hingga kebijakan-kebijakan pemerintah yang tak pro-rakyat.
Setelah sukses dengan pertunjukan langsung, Mens Rea kemudian tayang eksklusif di Netflix, sejak 27 Desember silam. Bahkan, materi Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan itu disajikan tanpa sensor yang membuatnya menduduki posisi pertama 'Top 10 TV Shows di Indonesia'.
Kesuksesan Mens Rea tampaknya belum mampu membuat semua orang terhibur. Sekelompok orang memicu reaksi keras, termasuk laporan ke polisi dan aksi unjuk rasa.
Hal ini membuat Mens Rea bukan sekadar tontonan komedi, tapi fenomena sosial dan politik yang memicu perdebatan publik soal batas humor dan kebebasan berekspresi.*
(SIS)