Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Sejarah Pemakaman di Jawa Era 1920 yang Penuh Klenik dan Pamali

Alan Pamungkas , Jurnalis-Kamis, 07 September 2023 |17:53 WIB
Mengenal Sejarah Pemakaman di Jawa Era 1920 yang Penuh Klenik dan Pamali
Live Jero Podcast Semedi (Foto: RCTI+)
A
A
A

JAKARTA - Masyarakat Indonesia terutama Jawa  pada abad ke-20 memang dikenal sebagai masyarakat yang masih kental akan budaya dan tradisi. Ini dibuktikan dengan cara berpakaian hingga perilaku masyarakat terhadap sesama.

Salah satu tradisi unik yang di abad tersebut masih kental akan klenik adalah proses pemakaman. Ya, jika dibandingkan dengan prosesi pemakaman di zaman sekarang memang sangat berbeda jauh.

Lantas, apa saja hal mistis yang berhubungan dengan proses pemakaman zaman dulu? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

JERO PODCAST SEMEDI- EPS.51 KLENIK JAWA PART 2

Mengenal Sejarah Pemakaman di Jawa Era 1920 yang Penuh Klenik dan Pamali

1. Larangan Keluar Rumah

Pada masa itu, tepatnya di tahun 1920-an ada larangan untuk keluar malam apabila baru ada tetangga yang meninggal dunia. Umumnya masyarakat yang percaya tradisi ini berasal dari kalangan masyarakat agraris pedesaan.

Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan biasanya warga setempat mengundang kuncen kuburan untuk memberi syarat agar arwah yang baru dikubur tak bergentayangan mengganggu orang-orang terdekatnya.

2. Identik dengan Bunga Semboja

Tak hanya larangan keluar rumah, namun juga kental dengan bunga Semboja (embed dengan link utm) atau Kamboja. Ini pun tertuang dalam karya R. Nieuwenhuys dalam buku berjudul, “Met Vreemde Ogen” (1988), dimana pada tahun 1920 bunga satu ini identik dengan makam di Jawa.

Sejatinya, bunga Semboja bukan asli Indonesia dan baru ada di Pulau Jawa pada awal abad ke-20 masehi. Bunga yang berasal dari Amerika Tengah ini disebarkan oleh Belanda hingga ke Asia Tenggara.

Orang-orang Jawa kuno saat itu percaya jika bunga ini bisa membuat arwah di pemakaman menjadi tenang. Maka dari itu mereka sering menanam pohon Semboja di komplek pemakaman yang bertujuan untuk jadi sesaji.

Konon penanaman pohon ini di makam untuk membantu proses pembusukan jasad. Ini agar jasad yang baru dikebumikan lebih sempurna memproses pembusukannya dan berakhir menjadi pupuk organik untuk tumbuhan yang ada di sekitarnya.

3. Kain Batik untuk Menutupi Jasad di Keranda

Masyarakat Jawa mungkin tak asing, terkadang dalam prosesi pemakaman masih ditemui iring-iringan jenazah yang kerandanya ditutup dengan kain batik. Rupanya ini sudah ada sejak zaman Jawa Kuno lho.

Ini sebagai simbol duka cita dan mengistimewakan jasad untuk terakhir kalinya dengan menggunakan pakaian batik. Bukan sembarang batik yang digunakan melainkan Batik Slobok (embed dengan link utm).

Kain batik Slobok sendiri memiliki warna yang sedikit gelap dengan motif kotak-kotak samar di setiap barisnya. Konon motif ini melambangkan perasaan duka yang mendalam dari para keluarga dan orang-orang terdekatnya.

4. Pemakaman yang Dibalut Aura Mistis dan Klenik

Ada juga larangan lain yang wajib diketahui, yakni melarang perempuan mengantar jenazah hingga ke pemakaman. Meski belum jelas apa penyebab larangan tersebut, yang jelas mereka menyebut larangan ini dengan istilah pamali.

Sebagai gantinya mereka pun menyiapkan acara selamatan malam hari, seperti menyediakan kudapan dan sesaji untuk mengantarkan arwah ke alam baka secara tenang dan bahagia.

Tak hanya itu, pasca prosesi pemakaman usai ada larangan untuk setiap anggota keluarga si almarhum agar tidak keluar rumah malam hari. Mereka percaya sebelum 40 hari berlalu arwah yang meninggal masih bergentayangan dan mengelilingi orang-orang terdekatnya.

Saat itulah mereka diwajibkan memberi sesaji yang terdiri dari bunga tujuh rupa, makanan kesukaan mendiang, dan rokok kretek dengan tambahan klembak menyan.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita celebrity lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement